[Kyu-Inhyun] Our Marriage | 1st : Unexpected Matchmaking


1st -Unexpected Matchmaking-

Author                     : @UZakiahH

Genre                       : Romance

Length                     : 20 pages of Microsoft Word (6.676 words -_-“)

PG                             : 15+

Author’s Note        : Don’t be a plagiarism! Ini hasil pemikiran Author, jangan coba-coba untuk meng-copy paste dan mengganti karakter di dalam cerita ini. Fanfict ini boleh disimpan dan disebarluaskan. Dengan satu catatan! Harus make credit, arasseo?

Happy Reading!^^

Inhyun memasukkan beberapa buku ke dalam ransel yang akan dibawanya ke kampus. Dari luar rumah, Appa-nya sudah menekan klakson mobil beberapa kali. Menyuruh Inhyun agar lebih cepat bergegas keluar rumah.

“Tunggu sebentar, Appa!” teriak Inhyun. Dia berlari melalui tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua rumahnya. Dengan nafas tersengal-sengal, dia masuk ke dalam mobil.

“Kenapa kau lama sekali?” tanya Appa-nya, Tuan Goo.

“Mianhae, Appa. Aku terlambat bangun.” Inhyun peace ke arah Appa-nya sambil tersenyum.

“Ish. Lain kali jangan terlambat! Appa bisa terlambat kerja juga nanti.” Tuan Goo membelai rambut anaknya dengan lembut. “Kita berangkat, ne?”

Inhyun mengangguk. “Let’s go!”

-ooo-

[Inhyun’s POV]

Aku menaruh nampan di atas meja kafetaria. Di atas nampan itu sudah tersedia berbagai macam lauk untuk jadi santapan makan siangku. Suasana kafetaria sangat ramai siang ini. Membuatku sedikit agak gerah dan tidak nyaman. Kuputuskan untuk memakan makan siangku dengan cepat agar bisa keluar dari kafetaria terkutuk ini.

Di saat kumasukkan sendok pertama ke dalam mulutku, suasana kafetaria menjadi lebih gaduh. Aku mendengus kesal dan mencoba mencari apa yang membuat kafetaria menjadi lebih gaduh dan sangat ribut.

“Kyaaa! Lihat! Kyuhyun Super Junior datang! Kyuhyun! Kyuhyun!” teriak seorang mahasiswi SNU. Yang berteriak lantas menaruh nampannya sembarangan lalu mencoba mendekati Kyuhyun yang sudah dikerumuni mahasiswa-mahasiswi SNU yang lain. Kulihat Kyuhyun yang sedang mamakai topi, kacamata, masker dan jaket ber-hoodie, mencoba menerobos kerumunan mahasiswa menuju meja Hae Ri, seorang artis papan atas yang juga mahasiswi di SNU. Mereka berdua akhir-akhir ini memang diberitakan sedang menjalin hubungan.

Kubawa nampanku untuk berpindah ke meja yang lebih jauh dari kerumunan itu. Itu membuat makan siangku terganggu. “Aku tahu dia itu artis terkenal. Tapi, kenapa harus selalu datang ke SNU untuk membuat kegaduhan? Pihak kampus juga tidak pernah mempermasalahkan ini. Itu aneh!” ucapku sedikit kesal.

BRAK!

Semua yang kubawa di atas nampan terjatuh dengan sempurna di atas lantai kafetaria. Lengkap sudah kekesalanku hari ini. Pertama karena Kyuhyun dan kedua karena orang  yang tidak sengaja menabrakku.

“Yak! Kalau jalan lihat-lihat!” aku meneriaki seorang namja yang sedang berdiri di depanku. Dia memakai kacamata hitam, masker dan topi coklat. Dia tidak mempedulikanku dan terlihat sedang memperhatikan kegaduhan yang berada di depan pintu kafetaria. “Yak! Kau tidak mendengarku?!”

“Aish! Kau berisik sekali!” seru namja itu tanpa sekalipun memandangku. Pandangannya tetap pada kegaduhan itu.

“Kau harus ganti makan siangku! Aku baru makan satu sendok!” protesku. Dia lalu mengalihkan perhatiannya kepadaku. Kacamatanya yang berlensa hitam gelap tidak bisa membuatku melihat matanya.

“Kau ini cerewet sekali!” serunya lagi. Dia merogoh dompet yang ada di kantong celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya padaku. “Ini!”

Dia lalu pergi meninggalkanku yang masih melongo dengan uang yang ada di tanganku. Uang yang diberikan namja itu sangat banyak. Ini  bisa membiayai makan siangku selama seminggu. Namja itu menghilang, bersamaan dengan hilangnya suara kegaduhan di depan pintu kafetaria. Kyuhyun sudah pergi bersama Hae Ri ternyata. Itu bisa membuatku sedikit lega. Tapi, bagaimana dengan uang ini?!

Aku berlari keluar kafetaria, mencari namja yang tadi. Ternyata kegaduhan kedatangan Kyuhyun untuk menjemput Hae Ri belum selesai dan berlanjut sampai ke tempat parker kampus. Aku menggeleng pelan memandang kedua orang itu dikerumuni mahasiswa-mahasiswi SNU. Belum lagi dengan wartawan-wartawan yang datang. Harusnya pihak kampus melarang ini terjadi di dalam kampus. Mengganggu kenyamanan kampus.

Mataku menangkap sosok namja itu berdiri di dekat pohon. Dia lagi-lagi sedang memperhatikan kegaduhan itu. Aku mengernyitkan dahi. Dia sepertinya bukan mahasiswa dari sini. Lantas, siapa dia? Apa dia wartawan? Ah, tidak mungkin. Kalau dia wartawan, dia seharusnya ikut di kerumunan itu.

Ah, iya! Uang!”

Aku berlari ke arah namja itu. “Yak! Uang ini lebih—“

BRUK.

Aku terjatuh dengan baiknya di halaman parkir yang sedang ramai. Semua orang yang melihatku terjatuh tertawa dengan keras. Aku mencoba bangkit sambil menahan tangis-ku. Aku bukan menangis karena sakit, tapi karena tertawaan orang lain. Ini memalukan! Aku meringis kesakitan dan melihat luka yang cukup besar di lutut kananku. Aku tidak bisa meluruskan lututku karena terasa sangat nyeri.

Seseorang lalu berjongkok di depanku. Namja bermasker itu! “Kau baik-baik saja?”

Aku menggeleng pelan. “Tentu saja aku sedang tidak baik, bodoh! Kau tidak lihat luka ini?” teriakku tidak terlalu keras sambil meringis kesakitan. Di sisi lain, aku juga mencoba menahan airmataku yang sudah ada di ujung mata.

“Aku baru saja ingin membantumu jika saja kau tidak meneriaku ‘bodoh’!” namja itu lalu berdiri lagi dan melangkah meninggalkanku.

“Yak! Maafkan aku! Hey!” teriakku. Aku mecoba berdiri tapi aku kembali terjatuh lagi ke tanah. Aku kembali meringis kesakitan karena pantatku yang terasa sangat sakit. Aku benar-benar sudah menangis kali ini. Akh! Memalukan sekali!

“Naiklah ke punggungku!”

Suara berat itu membuatku membuka mataku dan menghapus airmataku. Namja itu sekarang kembali berjongkok di depanku. Tapi, kali ini dia memberikan punggungnya padaku. Dia berdeham cukup keras. “Ayo, naik! Aku tahu kau tidak bisa berjalan.”

Aku pun naik ke atas punggung namja yang tidak kukenal itu. Dia kemudian berdiri sambil menggendongku di punggungnya. Aku tidak tahu dia akan membawaku ke mana, tapi aku merasa suka dengan punggung ini. Punggungnya sangat nyaman dan hangat. Ini pertama kalinya aku digendong seorang namja selain Appa-ku. Tentu saja ini membuat jantungku berdebar.

Ini nyaman. Aku menyukainya.

Maksudku, aku menyukai punggungnya.

-ooo-

[Kyuhyun’s POV]

Kududukkan yeoja itu di sebuah bangku taman yang berada di dekat halaman parkir. Kebetulan mobilku juga ada di dekat bangku ini. “Aku akan mengambil obat merah di dalam mobilku. Kau tidak boleh ke mana-mana.”

Yeoja itu mendengus kesal sambil membuang muka. “Dengan lutut seperti ini, aku tidak akan bisa kemana-mana, bodoh.”

Kukerucutkan bibirku karena mendengar yeoja mungil di depanku ini mengataiku bodoh lagi. Sudah ditolong, dia masih saja seperti itu. Kalau saja aku tidak merasa kasihan saat melihatnya menangis di tengah-tengah halaman parkir tadi, aku tidak akan menolongnya.

Dengan sedikit malas, aku membuka pintu mobil dan mengambil kotak P3K di dalam dashboard mobilku. Kubanting pintu mobilku dan melihat kegaduhan yang ada di halaman parkir yang sudah berangsur-angsur menghilang. Hae Ri dan Manajer Hyung sudah berhasil masuk ke dalam van hitam. Mobil itu kemudian meninggalkan halaman parkir kampus. Semua orang berhasil dikelabui. Mereka semua berpikir bahwa aku yang menjemput Hae Ri. Yang menjemput Hae Ri adalah Manajer Hyung. Aku hanya mengawasi mereka dari jauh. Takut terjadi apa-apa dengan mereka berdua.

Kuambil ponselku dan mengetik nomor ponsel Manajer Hyung. Tak lama, Manajer Hyung mengangkat teleponnya. “Hyung, apa kau dan Hae Ri baik-baik saja?”

“…”

“Baguslah. Bawa dia ke sana sekarang, Hyung. Aku akan menyusulnya ke sana. Mianhae, merepotkanmu.”

“…”

“Ne, Hyung. Aku secepatnya akan ke sana.”

“…”

Kututup telepon itu dan menaruh ponselku ke dalam saku celana. Aku kemudian membuka masker yang sejak tadi menutupi mulutku dan menaruhnya di dalam kantong yang sama dengan ponselku. Benda itu membuatku gerah. Lagipula, di sini cukup sepi. Tidak banyak yang berlalu lalang.

“Kenapa kau lama sekali?” teriak yeoja mungil yang sedang duduk di bangku itu. Dia menukikkan alisnya sambil memandangku. Aish! Dasar, yeoja tidak tahu sopan santun!

Aku melangkah ke arahnya lalu berjongkok di depannya. Kubuka kotak P3K yang kubawa dan mengambil obat merah dan kapas dari dalam sana.

“Jamkanman! Lukanya harus dibersihkan dulu!” cegat yeoja itu sesaat sebelum aku ingin memberi obat merah. Dia mengeluarkan sebotol air minum. Dibukanya sepatunya dan membersihkan lukanya yang terlihat sangat parah itu dengan air yang mengalir dari dalam botol itu.

“Kau bisa sendiri, kan? Kotak ini untukmu saja. Aku sedang terburu-buru.” Ucapku kesal padanya. Kusodorkan kotak P3K itu tepat di depan wajahnya. Dia kemudian mengambil kotak itu dan memberikanku uang.

“Ini uangmu. Setelah kau menolongku tadi, aku rasa keterlaluan jika memintamu mengganti uang makan siangku. Gamsahamnida.” Dia menyodorkanku uang yang kuberikan padanya tadi. Kuambil uang itu dengan senang hati lalu meninggalkannya di bangku taman itu sendiri. Saat aku masuk dan duduk di dalam mobil, yeoja itu sudah sibuk memberikan obat merah pada lukanya. Dia beberapa kali meringis kecil dan meniup-niup lukanya dengan mulutnya.

“Dasar gadis aneh!” ledekku.

Kuhidupkan mesin mobil lalu meninggalkan halaman parkir SNU. Menuju restoran di mana aku dan Hae Ri akan bertemu.

-ooo-

[Inhyun’s POV]

Appa menaruh korannya di atas meja lalu menghampiriku yang jalan terpincang-pincang. Dia membantuku berjalan masuk dan duduk di atas sofa ruang tengah. “Apa yang sudah terjadi?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Aku tadi lari di kampus dan aku terjatuh. Inilah hasilnya!” aku memandang Appa-ku. Tidak seperti biasa. Kenapa dia pulang lebih cepat dari kerjanya? “Appa pulang cepat? Kenapa?”

“Appa ada pertemuan sebentar malam. Makanya, Appa pulang cepat.”

“Sepertinya pertemuan yang sangat penting.” Aku melirik Appa-ku dengan tatapan ingin tahu. “Apa…ini pertemuan dengan calon Eomma tiriku?” tanyaku lanjut dengan nada was-was.

Raut wajah Appa-ku berubah drastis. Aku menertawakan wajahnya yang terlihat lucu. “Appa, wajahmu sangat lucu!” ledekku. “Kalau ini benar pertemuan dengan Eomma tiriku, aku tidak akan keberatan. Lagipula, Appa sudah terlalu lama sendiri.”

“Kau sedang berbicara apa?” tanya Appa dengan muka yang masih kesal. “Kau sendiri? Kapan kau membawakan Appa calon menantu?”

Aku mencubit lengan Appa-ku. “Appa! Itu terlalu cepat! Aku masih semester empat.”

Keadaan menjadi terbalik. Appa yang kali ini menertawakanku. “Kau bahkan tidak pernah berpacaran hingga sekarang. Appa sangat khawatir kalau anak Appa akan menjadi perawan tua.”

“Appaaaaa!” aku berteriak kesal lalu beranjak dari sofa dengan susah payah.

“Kau harus menemani Appa di pertemuan malam ini.” Appa memandangku.

“Huh? Kenapa? Apa ini benar-benar pertemuan dengan Eomma tiri-ku? Kau ingin mengenalkannya denganku?” aku menunduk memandang lututku yang terluka. “Dengan keadaanku yang seperti ini? Appaaaa~”

“Tidak apa-apa. Jam 7, kau harus bersiap-siap. Arasseo?”

Aku menghembuskan nafas pelan dan mengangguk menyetujui perkataan Appa-ku. Sebenarnya, jika aku dalam kondisi baik-baik saja, dengan senang hati, aku akan menemani Appa-ku. Tapi, dengan kondisi seperti ini? Huft…

Aku kemudian naik ke lantai dua menuju kamarku.

-ooo-

[Author’s POV]

Kyuhyun memasukkan potongan steak ke dalam mulutnya. Di depannya, duduk seorang yeoja berparas cantik, menikmati steak-nya. Yeoja bernama Hae Ri itu masih tidak mengerti, kenapa Kyuhyun mengajaknya bertemu. Padahal, jadwal Kyuhyun bersama Super Junior juga sepadat lalu lintas di Jakarta (?)

“Oppa,” Hae Ri memanggil Kyuhyun yang sudah menjalani hubungan dengannya selama 2 tahun lebih itu. Media massa tidak pernah tahu bahwa mereka sudah menjalani hubungan cukup lama. “Di jadwalmu yang cukup padat, kenapa kau mengajakku bertemu?”

Kyuhyun mengangkat wajahnya, memandang wajah yeoja-nya. “Wae? Kau tidak senang bertemu denganku? Ini sudah seminggu kita tidak bertemu, Hae Ri-ya. Aku merindukanmu.”

Hae Ri tersenyum kepada Kyuhyun, lalu memotong steak-nya kembali. “Aku juga merindukanmu Tapi, kita tidak boleh terlalu sering bertemu. Aku takut dengan fans-fans kita di luar sana. Kadang mereka bertindak cukup agresif.”

“Kau bicara seperti baru saja berpacaran denganku. Kita sudah berpacaran selama 2 tahun, Hae Ri-ya. 2 tahun bukan waktu yang cukup singkat. Lagipula, apa hak fans-fansku melarangku bertemu dengan pacarku?” tanya Kyuhyun, membuat Hae Ri tersenyum kembali.

Hae Ri memasukkan potongan steak ke dalam mulutnya sambil memandang Kyuhyun. Namja itu tengah sibuk kembali dengan steak-nya. Memotong steak itu menjadi beberapa bagian dan melahapnya dengan semangat. Pandangan mata mereka bertemu secara tidak sengaja. Kyuhyun menatap lekat mata Hae Ri hingga dia sendiri bisa melihat bayangan dirinya di dalam mata bening yeoja itu.

“Aku ingin menikahimu, Hae Ri-ya.” Ucap Kyuhyun tiba-tiba. Hae Ri berhenti mengunyah steak yang masih ada di dalam mulutnya. Dia terkejut mendengar keinginan Kyuhyun barusan. “Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Aku serius.”

Hae Ri menelan daging steak di mulutnya dengan terpaksa, padahal daging itu belum terlalu halus untuk ditelan. “Aku…”

“Secepatnya, aku akan membawamu ke rumahku dan bertemu dengan orangtuaku. Aku ingin mengenalkanmu pada mereka sebagai calon istriku.” Kyuhyun memberikan senyum pada Hae Ri yang masih terkejut. Kyuhyun yang menangkap raut wajah Hae Ri yang aneh kemudian bertanya. “Wae? Kau kenapa? Apa yang mengganggu pikiranmu?”

“Apa tidak terlalu cepat untuk kita menikah, Oppa?”

“Kau merasa ini terlalu cepat?”

“Kau sedang dalam masa keemasanmu bersama Super Junior. Bukankah lebih baik kau nikmati itu semua dulu sebelum menikah denganku?”

Kyuhyun menggenggam tangan Hae Ri. “Dengarkan aku. Jika kita menikah, ini akan menjadi pernikahan yang disembunyikan dari media massa dan fans-fans kita. Aku tidak akan meletakkanmu di kondisi yang bisa membahayakanmu.”

Hae Rim diam, menanti perkataan selanjutnya yang akan dilontarkan Kyuhyun.

“Kau percaya padaku, kan? Kau tidak boleh terlalu takut dengan fans-fans di luar sana. Aku masih bisa hidup tanpa mereka, tapi aku tidak bisa hidup tanpamu.” Kyuhyun mengecup punggung tangan Hae Ri. Hae Ri mengangguk pelan. Dia terharu mendengar perkataan Kyuhyun barusan. Namja di depannya ini benar-benar mencintainya.

-ooo-

Kyuhyun masuk ke dalam rumahnya dengan terburu-buru. Dia disambut dengan jitakan di kepalanya. Pelaku dari jitakan itu adalah Noona-nya, Ahra. Ahra melototi adik laki-laki satu-satunya itu sambil berkacak pinggang. “Kau darimana saja, Kyu?!”

Kyuhyun mengelus kepalanya yang terasa sakit dengan jitakan Noona-nya. Walaupun Noona-nya ini berbadan mungil, dia bisa mengeluarkan tenaga setara seekor kuda jika menjitak. “Memangnya kenapa kau menyuruhku pulang? Untung saja aku tidak ada jadwal malam ini.”

“Appa dan Eomma ada pertemuan penting malam ini. Dia menyuruh kita berdua untuk ikut serta.”

“Mwo? Karena itu? Memangnya sepenting apa? Aish!” gerutu Kyuhyun. Dia lalu ke dapur, mengambil segelas air putih dan meminumnya.

“Ini sangat penting. Sekarang kau bersiap-siap. Ganti pakaianmu! Kita akan menyusul Appa dan Eomma yang sudah pergi duluan ke restoran.” Ahra menarik tangan Kyuhyun menuju kamar Kyuhyun yang berada di lantai atas.

Kyuhyun mengganti pakaian sambil tidak berhenti mendumel. Begitu juga dengan Ahra yang sekarang berdiri di depan pintu kamar Kyuhyun. Noona-nya juga tidak berhenti menyuruh Kyuhyun agar lebih cepat karena mereka sudah sangat terlambat. Beginilah Kyuhyun setiap kali dia pulang ke rumah. Dia tidak pernah akur dengan Noona-nya. Selalu saja mereka bertengkar. Padahal mereka sudah cukup dewasa untuk bertengkar seperti anak kecil.

“Memangnya ini pertemuan macam apa?” Kyuhyun tetap saja bertanya pada Ahra yang juga tidak tahu. Mereka masuk ke dalam mobil Ahra yang dikendarai oleh Kyuhyun.

“Molla. Berhenti bertanya seperti itu. Aku juga tidak tahu.” Peringat Ahra dengan nada kesal. Dia memasang seatbelt-nya, lalu Kyuhyun segera menjalankan mobil sedan merah milik Noona-nya itu menuju restoran.

-ooo-

“Kenapa mereka lama sekali?”

Inhyun memandang sepasang suami istri yang duduk di depannya dan Tuan Goo. Si suami terlihat rapi dengan jas hitam, kemeja putih dan bow tie berwarna hitam. Sedangkan si istri memakai dress panjang berwarna biru hingga mata kaki dipadukan dengan syal berwarna putih tulang.

“Sabarlah. Mereka pasti akan datang.” Si suami mencoba membuat si istri lebih bersabar sedikit. Si istri tersenyum ke arah Inhyun dan Tuan Goo.

“Maaf, mereka datang terlambat.”

“Tidak apa-apa.” Tuan Goo menanggapi cepat perkataan si istri. “Ah, Inhyun-ah, kau pasti belum mengenal mereka,” Tuan Goo berbalik memandang Inhyun yang masih bertanya-tanya dalam hati tentang siapa gerangan dua manusia di depannya sekarang. Dia merasa mengenal wajah kedua orang itu.

“Perkenalkan, ini Tuan Cho dan istrinya.”

“Annyeonghasimnikka, Ahjussi, Ahjumma.” Inhyun membungkukkan kepalanya kepada dua orang itu lalu berbalik ke arah Appa-nya, “Appa, aku kira ini pertemuan dengan calon istrimu.” Bisik Inhyun sekecil mungkin agar tidak terdengar oleh Tuan Cho dan istrinya, “Lantas, kalau bukan, kenapa kau mengajakku mengikuti pertemuan ini?”

“Nanti kau akan tahu.”

“Ah, mereka sudah datang!” Nyonya Cho kemudian melambaikan tangan. Inhyun membalikkan sebagian badannya ke belakang, melihat siapa yang datang. Dia melihat seorang yeoja dan namja berjalan beriringan mendekati meja mereka. Yeoja itu membalas lambaian Nyonya Cho, sedangkan si namja menundukkan kepalanya, tampak dia sedang sibuk menyentuh layar sentuh ponselnya.

“Kenapa kalian lama sekali?” tanya Nyonya Cho. Yeoja itu duduk di samping Nyonya Cho, sedangkan namja tinggi itu duduk di samping Tuan Cho. Inhyun mengucek kedua matanya. Apa dia tidak salah lihat? Yang duduk di depannya saat ini adalah keluarga Cho Kyuhyun. Pantas saja, dia merasa tidak asing dengan wajah Tuan Cho dan Nyonya Cho. Tapi, buat apa Appa-nya mengadakan pertemuan dengan keluarga Cho malam ini? Inhyun mengalihkan perhatiannya dari Kyuhyun dan memandang Nyonya Cho.

Kyuhyun menaruh ponselnya di atas meja dan memandang dua orang yang duduk di depannya. Satunya adalah seorang yeoja berambut panjang dan rambutnya diikat setengah, yang lainnya dibiarkan terurai. Satunya lagi adalah Ahjussi yang sudah berumur lanjut. Kyuhyun memperhatikan dengan baik yeoja cantik yang ada di depannya saat itu. Dia tidak merasa asing dengan wajah yeoja itu.

“Perkenalkan, ini Cho Ahra.” Nyonya Cho memegang pundak yeoja di sampingnya yang merupakan anak perempuan satu-satunya.

“Annyeonghasimnikka, Min Ji Ahjussi. Annyeong, Inhyun-ah!” sapa Ahra. Inhyun mengernyitkan keningnya karena bingung. Yang membuatnya bingung adalah kenapa Ahra mengetahui namanya. “Lama tidak bertemu.” Lanjut Ahra, semakin membuat Inhyun tidak mengerti. Lama tidak bertemu? Itu artinya, mereka pernah bertemu sebelumnya, bukan?

“Lama tidak bertemu? Kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Inhyun.

Kau tidak ingat? Kau pernah menghadiri acara ulangtahunku yang ke-7 waktu kecil. Sudah agak lama memang, wajar kalau kau melupakannya.” Ahra tersenyum kecil, “Saat itu, gaun yang kau pakai kejatuhan es krim, aku membawamu ke kamarku untuk mengganti bajumu.”

“Jeongmal? Maaf, aku lupa dengan hal itu.” Inhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Kyuhyun kembali memainkan ponselnya, mengabaikan percakapan yang terdengar tidak cukup penting untuknya itu. Dia sedang sibuk membalas pesan dari Hae Ri yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke Jeju. Dia ada syuting drama di pulau itu.

Hati-hati. Kau tidak boleh terluka sedikit pun saat syuting di sana. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu.

Kyuhyun mengirim pesan itu ke nomor Hae Ri lalu tersenyum sendiri.

“Dan namja yang ada di ujung sana, dekat Appa-ku, adalah Cho Kyuhyun. Dia yang menjatuhkan es krim di gaunmu.” Ahra menunjuk Kyuhyun. Mendengar namanya disebut, Kyuhyun berhenti tersenyum dan memandang orang di sekitarnya.

Tuan Cho berdeham keras. “Simpan ponselmu, Kyu. Tidak sopan menggunakan ponsel di saat seperti ini.”

Kyuhyun segera menaruh ponselnya di dalam celana abu-abu gelap yang berwarna senada dengan jas yang dikenakannya. Dia paling takut jika Appa-nya sudah marah. “Cho Kyuhyun imnida.” Kyuhyun menundukkan kepalanya ke arah Inhyun dan Tuan Goo.

“Kyuhyun-ah,” Tuan Cho memanggil nama anaknya lirih. Kyuhyun memandang Appa-nya sambil menunggu perkataan selanjutnya yang akan keluar dari mulut Appa-nya, “Yeoja yang duduk di seberang meja ini adalah calon menantu kami.”

Kyuhyun dan Inhyun terkejut bukan main saat mendengar perkataan Tuan Cho. Mata mereka sama-sama membulat. Keduanya juga saling membuka mulut karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya tadi. Bukan hanya Inhyun dan Kyuhyun saja yang terkejut, Ahra juga ikut terkejut.

“Appa?” Inhyun menatap Tuan Goo, meminta penjelasan pada Appa-nya itu. Tuan Goo tersenyum pada Inhyun sambil mengelus kepala anaknya itu dengan lembut.

“Apa itu benar, Eomma?” tanya Ahra. Nyonya Cho mengangguk. Ahra tersenyum pada Inhyun dan Kyuhyun. “Chukhae!” teriak Ahra sambil bertepuk tangan.

Kyuhyun dan Inhyun melemparkan tatapan kesal pada Ahra secara bersamaan. Ahra memutuskan diam seribu bahasa ketika melihat tatapan tajam dari keduanya.

“Kenapa Appa dan Eomma memutuskannya secara sepihak?!” teriak Kyuhyun. Dia lalu berdiri dan meninggalkan meja. Semua mata tertuju pada Kyuhyun yang keluar dari restoran.

“Aku takut dia kabur.” Nyonya Cho masih memandang pintu restoran.

“Tenang, Eomma. Dia tidak akan kabur. Kunci mobil dan dompetnya ada padaku. Dia juga tidak mungkin pulang dengan taksi tanpa penyamaran sedikit pun.” Ahra terkekeh kecil. Nyonya Cho hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat anak perempuannya itu.

“Lebih baik kau susul dia.” Saran Nyonya Cho pada Inhyun, disambut dengan anggukan Tuan Cho, Tuan Goo dan Ahra.

“Mwo? Aku?” Inhyun menunjuk dirinya sendiri.

“Iya, kau!” seru Ahra.

“Tapi, tapi…”

“Ayolah, calon Nyonya Cho kecil!” Ahra tetap memaksa. Inhyun menghembuskan nafas pelan. Dia kemudian berdiri dari duduknya, keluar dari restoran untuk menyusul Kyuhyun.

“Kenapa dengan kakinya?” tanya Ahra saat melihat Inhyun jalan dengan sedikit terpincang-pincang.

“Dia habis jatuh di kampus.” Tuan Goo menjawab. “Bisa kita tentukan tanggal pernikahan sekarang?”

-ooo-

[Kyuhyun’s POV]

Aku menendang kaleng minuman soda saat sudah berada di luar restoran. Aku merogoh kantong celanaku, mencoba mencari kunci mobil. Tapi aku hanya menemukan ponselku. Bahkan dompetku juga tidak ada.

“Argh! Kunci mobil dan dompetku pasti ada pada setan perempuan itu!” teriakku keras. Yang aku maksud adalah Ahra. Setan perempuan itu ternyata lebih licik dari diriku.

Aku tidak mungkin pulang tanpa penyamaran seperti ini. Mau tidak mau, aku harus menunggu mereka semua pulang. Sialan! Kenapa harus ada perjodohan seperti ini? Aku bahkan belum memperkenalkan Hae Ri pada mereka. Aku tidak bisa melepaskan Hae Ri begitu saja karena perjodohan ini.

Kududukkan diriku di sebuah bangku kayu panjang di depan restoran Italia yang kudatangi itu untuk merilekskan diriku. Kubuka jasku dan mengerudungi kepalaku agar orang-orang yang berlalu lalang di depanku tidak melihatku dan menyadari keberadaanku. Aku sedang tidak dalam mood untuk memberikan tanda tangan pada fans dan berfoto dengan mereka.

“Kyuhyun-ssi.”

Aku sedikit menyingkirkan jasku dan melihat yeoja yang berada di dalam restoran tadi berdiri di depanku. Kenapa dia menyusulku keluar? Ck!  Menyebalkan sekali.

“Mereka menyuruhku menyusulmu. Boleh aku duduk di sampingmu?”

Aku diam tidak menjawabnya. Tanpa kuizinkan, dia berjalan sedikit pincang mendekati bangku dan mencoba untuk duduk. “Yak! Apa aku mengizinkanmu untuk duduk?” tanyaku kasar. Dia terlihat kaget dengan bentakanku. Dia lalu tidak jadi duduk dan hanya berdiri di dekat bangku. Aku kembali mengerudungi kepalaku dengan jas.

“Ini kedua kalinya aku melihatmu hari ini.”

Aku kembali diam. Tidak mencoba untuk memotong pembicaraannya.

“Kau datang ke SNU tadi pagi untuk menjemput Hae Ri, membuat kegaduhan seperti biasa dan sekarang kau ada di depanku. Orangtua kita tiba-tiba membicarakan perjodohan di antara kita. Tentu saja kau dan aku terkejut.”

Oh, dia mahasisiwi di SNU juga ternyata. Kulihat darah yang mengalir dari lutut kanannya. Lutut kanannya dipakaikan kapas putih yang sudah berubah warna menjadi merah darah. Aku memandang yeoja yang masih tidak menyadari bahwa lututnya itu berdarah.

“Hey!” aku menegurnya. Dia terlihat melamun. Tatapannya lurus memandang papan bertuliskan nama restoran Itali yang kami datangi. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan yeoja itu.

Aku berdiri dan memegang pundaknya. Tanpa tenaga yang cukup besar, aku mendorong yeoja berbadan mungil itu agar dia duduk di bangku. Seketika dia meringis kesakitan dan melototiku.

“Kau kenapa? Lututku sedang terluka, bodoh!” dia membentakku, tidak mempedulikan bahwa dia baru saja membentak seorang Kyuhyun Super Junior. Ditaruhnya tas kecil yang dibawanya di atas bangku.

Aku seketika teringat dengan kejadian di SNU tadi. Aku menolong seorang yeoja aneh yang terjatuh di halaman parkir SNU. Yeoja itu juga terluka di lutut kanan. Dan, suara yeoja tadi dengan yeoja yang ini sama. Dia juga mengataiku ‘bodoh’.

“Kau!” geramku, “Kau tidak lihat? Lututmu berdarah!” aku menunjuk lututnya. Dia lalu menunduk memandang lututnya.

“Omo! Darahnya banyak sekali?!” dia berteriak cukup panik. “Ini semua karena kau melarangku duduk!”

Dia! Ini benar dia. Hanya saja, malam ini dia tampak cukup berbeda dengan sapuan make up tipis di wajahnya. “Lagipula, kenapa kau tidak membantah laranganku? Aku bukan polisi. Aku tidak akan menangkapmu jika kau melanggari ucapanku.”

Dia mendengus kesal lalu melepas blazer putih berlengan panjang yang dikenakannya, bermaksud untuk mengelap darah yang mengalir di betis kecil miliknya.

“Yak!” teriakku dan menahan tangan yeoja itu. “Tunggu. Aku akan mengambil kotak P3K di dalam restoran.”

Yeoja itu hanya memandangku yang segera berlari masuk ke dalam restoran untuk meminta kotak P3K. Tidak lama, aku kembali ke depan restoran sambil membawa kotak kecil berwarna putih. Yeoja itu terlihat sedang meniup-niup lukanya.

“Aku akan membersihkan darahnya dulu.” Aku berjongkok di depannya. Menyentuh betisnya yang putih itu dan mengelapnya dengan sebuah kain yang kubawa serta dari dalam restoran. Setelah bersih, aku menutupi lukanya dengan kapas yang sudah kuberi obat merah.

“Kau tidak berterima kasih padaku?” aku meliriknya sebentar sambil memasukkan kembali botol obat merah ke dalam kotak P3K.

“Gamsahamnida, Kyuhyun-ssi.” Dia lalu membuang muka, tidak berani menatapku. “Aku akan meminta Appa untuk membatalkan perjodohan kita.”

Aku menutup kotak P3K. “Tentu saja kau harus melakukan itu. Aku tidak ingin hubunganku dengan Hae Ri berakhir karena perjodohan konyol ini.” Aku kemudian berdiri sambil menenteng kotak putih di tanganku. “Aku juga akan meminta perjodohan ini dibatalkan.”

Dia mengangguk dan kembali memakai blazer putih miliknya, menutupi bahunya yang putih bersih. “Kau mau pulang?”

“Aku mau pulang ke dorm, tapi dompetku ada di Ahra Noona.”

“Tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu pulang.” Dia berdiri dengan susah payah. “Aku membawa mobil.”

Dia berjalan dengan pincang menuju mobilnya. Aku mengikutinya dari belakang. Rasanya tidak tega melihatnya berjalan seperti itu.

Bip…bip…

Dia menekan tombol untuk membuka kunci mobil. Dia lalu membuka pintu di bagian pengemudi. Kutahan pintu mobilnya. “Biar aku saja yang mengemudi.”

“Aku bisa. Kau tidak perlu bersikap baik seperti ini.” Dia menyingkirkan tanganku dari pintu mobil lalu masuk ke dalam. Aku mengedikkan kedua bahuku. Aku lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya yang sudah siap mengantarku pulang ke dorm.

-ooo-

[Inhyun’s POV]

“Appa. Kenapa tidak membicarakan hal ini padaku sebelumnya?” kupandangi Appa yang tengah menonton TV di dalam kamarnya. Aku bertanya tanpa adapun sedikit nada membentak di dalamnya. Kulembutkan nada bicaraku.

“Kenapa? Kau tidak suka dengan calon yang Appa jodohkan denganmu?”

“Appa, bukan be—“

“Inhyun-ah, umur Appa tidak panjang lagi,” potong Appa, “Appa harus segera mencari orang yang bisa menjagamu kalau Appa pergi menyusul Eomma-mu.”

Aku terhenyak mendengar perkataan Appa. Aku tidak mau kehilangan Appa. Dia satu-satunya keluarga yang aku punya. Dia sudah membesarkanku dengan penuh cinta sejak Eomma meninggal di umurku yang masih begitu belia, 2 tahun. Dia selalu menjadi Eomma yang baik dan menjadi Appa yang bertanggung jawab bagiku.

“Appa…” aku mengambil posisi duduk di sampingnya dan memeluknya. Appa membelai rambutku dengan pelan. Aku menangis di dalam dekapannya. Appa tidak boleh meninggalkanku. Aku masih membutuhkannya. Aku masih ingin dia di sisiku.

“Appa, jangan pergi.” Ucapku lirih.

“Appa tidak akan pergi meninggalkanmu sendirian di dunia ini. Itulah sebabnya Appa menitipkanmu padanya, pada Kyuhyun dan keluarganya.”

Tangisku semakin menjadi. Kenapa Appa terus saja membicarakan tentang kepergiannya menyusul Eomma di dunia lain sana? Apa dia akan benar-benar pergi? Aku tidak mau itu terjadi. “Appa, berhenti berbicara seperti itu. Kau membuatku takut.”

-ooo-

Sore ini, aku mengunjungi rumah keluarga Cho. Aku duduk di sofa yang ada di ruang tamu di rumah besar itu. Di sampingku, duduk dengan manis Ahra sambil memandangku lekat. Aku benar-benar tidak suka dan tidak nyaman dipandang seperti ini.

“Ahra-yah, berhenti memandangnya seperti itu. Kau membuatnya takut!” Nyonya Cho melemparkan bantal sofa ke arah Ahra. “Maafkan perbuatan Eonnie-mu ini, Inhyun-ah.”

“Ah, tidak apa-apa, Ahjumma.” Bohongku.

Ahra tersenyum ke arahku, “Kyunnie sedang tidak ada di rumah. Kau tahu ‘kan, betapa sibuknya dia bersama Super Junior itu. Kalau kau mau menemuinya, harusnya kau ke dorm atau setidaknya kau meneleponnya dulu.”

“Aku tidak punya nomor ponselnya.” Sahutku, membuat Ahra membuka mulutnya tidak percaya. Tidak mau dikalah, Nyonya Cho juga membuka lebar mulutnya (?)

“Mwo? Aku kira kalian bertukar nomor saat di luar restoran. Kau bahkan mengantarnya pulang ke dorm, tapi kau tidak punya nomor ponselnya? Ckckck.” Ahra beberapa kali mendecak sambil menggelengkan kepalanya. “Kemarikan ponselmu!” dia menengadahkan tangannya di depanku.

“Buat apa, Eonnie?” tanyaku lugu. Kuambil ponselku di dalam tas dan kemudian memberikannya. Dia mengetik sesuatu di ponselku. Aku tidak tahu dengan jelas apa yang dilakukannya. Kemudian dia menempelkan ponselku di telinganya.

“Yoboseyo, Kyunnie!” serunya. Aku terkejut mendengar siapa yang diteleponnya. “Kau sibuk?”

“…”

“Kau tidak perlu tahu ini nomor ponsel siapa. Kau sibuk tidak?”

“…”

“Pulang ke rumah. Eomma memasakkanmu jajangmyeon.”

“…”

“Aku serius, bodoh. Cepat pulang atau kalau tidak, aku akan menghabiskan jatahmu!”

Ahra mematikan telepon dan mengembalikan ponselku. Aku tidak pernah menyangka bahwa Ahra seagresif ini (?). “Kau akan segera bertemu dengannya. Kau tidak mengucapkan terimakasih padaku?”

“Gomawo, Ahra-ssi.” Gomawoyo, Ahra. Aku ke sini untuk bertemu dengan Eomma-mu, bukan untuk bertemu dengan setan itu. Aish!

-ooo-

[Kyuhyun’s POV]

Ahjussi ingin menitipkan Inhyun padamu. Ahjussi rasa, Ahjussi sudah harus pulang menyusul Eomma-nya. Ahjussi tidak ingin dia sendiri di dunia ini. Maafkan kalau Ahjussi terdengar sangat memaksamu untuk menerima dirinya, tapi Ahjussi hanya percaya pada kau dan keluargamu.

Ini permintaan terakhir Ahjussi. Ahjussi yakin dan percaya kalau kau akan menjaga putri Ahjussi dengan baik. Ahjussi tidak bisa memaksakan perasaanmu padanya, begitu juga perasaannya padamu, tapi Ahjussi harap kau bisa menjaganya dan menyayanginya.

Ahjussi menaruh banyak harapan padamu, Kyuhyun-ah.

Tuan Goo mengajakku bertemu sejam yang lalu, sebelum aku dan member Super Junior yang lain pergi untuk latihan dance. Sudah bisa kutebak pada saat itu jika dia bertemu denganku untuk membicarakan soal perjodohanku dengan Inhyun. Sampai sekarang, perkataannya terus saja berlalu lalang di pikiranku. Membuatku tidak konsentrasi saat latihan gerakan dance yang baru. Aku beberapa kali melakukan gerakan dance yang salah.

“Kau kenapa, Kyu? Apa kau punya masalah dengan Hae Ri?” tanya Sungmin Hyung, member Super Junior yang begitu dekat denganku sejak awal aku bergabung dengan boyband ini.

“Ini bukan soal Hae Ri, Hyung.” Ucapku pelan. Aku meneguk segelas air mineral.

“Jeongmal? Oh, iya. Siapa Ahjussi yang datang ke dorm tadi dan mengajakmu keluar?” tanya Sungmin Hyung lagi.

“Itu yang menjadi masalahku sekarang, Hyung.” Aku menyeka keringat yang membasahi dahiku dengan handuk kecil yang kukalungkan di leher. Mataku memandang member Super Junior yang lain sedang latihan dance dipandu oleh koreografer.

“Ceritakan padaku, Kyu.”

“Ini rumit, Hyung. Apa menurutmu, aku harus menerima orang yang tidak kucintai dan melepas orang yang kucintai?”

Sungmin Hyung mengedikkan kedua bahunya. “Aku tidak tahu apa permasalahanmu, Kyu. Tapi menurutku, lebih baik kau mempertahankan orang yang kau cintai. Buat apa kau menerima orang yang tidak kau cintai sama sekali dan begitu bodohnya membiarkan pergi orang yang kau cintai?”

Sungmin Hyung benar.

Ahjussi menaruh banyak harapan padamu, Kyuhyun-ah.

Kalimat itu kembali berdengung di telingaku. Ah, aku benar-benar bingung!

Ponselku berdering dengan nyaring dari dalam ranselku. Aku segera mengambil ponsel itu dan mengangkat telepon dari sebuah nomor yang tidak terdaftar di kontak ponselku.

Teriakan yang cukup kencang dari ujung sana membuatku kaget setengah mati. Suara teriakan ini milik Ahra Noona. Tapi, nomor siapa yang dipakainya untuk meneleponku?

“Yak! Jangan berteriak. Nomor siapa yang kau pakai untuk meneleponku?”

“…”

“Aku sedang latihan dance, Noona. Aku sibuk!”

“…”

“Serius? Kau tidak bohong, kan?”

“…”

Ahra Noona memutuskan sambungan teleponnya. Aku mendesis kesal. Sungmin Hyung menertawakan tingkahku yang sedang kesal. “Pulanglah ke rumah, Kyu. Kau boleh izin kali ini.”

“Ah, gomawoyo, Minmin-ah!” seruku dan memanggil Sungmin Hyung dengan panggilan sayangku padanya. Sungmin Hyung tersenyum padaku.

“Hati-hati di jalan!”

-ooo-

“Eomma, mobil di luar sana bukannya mobil yeoja itu?” aku bertanya pada Eomma-ku yang tengah menata puding buah di atas dua piring kecil berwarna putih.

“Yeoja siapa yang kau maksud?”

“Anaknya Goo Ahjussi.”

“Oh, dia ada di atas. Di kamarmu. Eomma menyuruhnya menunggumu di sana.”

Aku membelalakkan mata terkejut. Seumur hidupku, aku tidak pernah mengizinkan seorang yeoja masuk ke dalam kamarku selain Ahra Noona dan Eomma. Dan di mana yeoja itu sekarang? Dia ada di dalam kamarku. Dia menunggu di tempat yang tidak tepat. “Eomma, kenapa kau menyuruhnya menunggu di kamarku?” protesku. Aku mengikuti langkah Eomma yang berjalan menuju kulkas untuk mengembalikan kotak berisi puding ke dalamnya.

“Sudahlah. Kau pergi temui dia.”

“Aku pulang ke sini untuk makan jajangmyeon buatan Eomma, bukan untuk menemuinya.”

“Jajangmyeon? Eomma tidak membuat jajangmyeon.”

Aku mengepalkan tanganku karena geram. Ahra Noona membohongiku. Sialan! “Mana Ahra Noona?”

“Dia pergi belanja bersama temannya. Sudahlah, kau pergi temui Inhyun. Dia sudah menunggumu cukup lama.” Eomma lalu memberikanku sebuah nampan yang di atasnya sudah ada dua piring puding, “Ini puding untukmu dan untuknya. Tadi dia berkata pada Eomma kalau dia sangat menyukai puding cokelat. Eomma sudah membuatkannya untuknya, mudah-mudahan dia menyukai puding buatan Eomma.”

Aku mengambil alih nampan itu dari Eomma. Eomma sepertinya sudah sangat menyukai yeoja ini. Dia terlihat begitu spesial di mata Eomma dan juga sudah berhasil merebut perhatian Eomma. Kalau seperti ini, peluang untuk membatalkan perjodohan ini semakin sedikit.

-ooo-

Aku membuka pintu kamarku. Belum sempat aku menutup pintu, aku melihat yeoja bernama Goo Inhyun itu tertidur dengan pulas di atas tempat tidurku. Cih, dia bahkan tidur di atas tempat tidurku? Apa aku begitu lama membuatnya menunggu? Jarak dari dorm ke sini bahkan hanya membutuhkan satu jam lebih. Dia bisa tertidur secepat itu?

Kutaruh nampan di atas meja belajarku dan kulangkahkan kakiku mendekati tempat tidur. Mulutku sudah bersiap untuk membangunkannya dengan cara berteriak. Biar dia tahu rasa. Muehehe.

“Kyuhyun-ssi…”

Aku mengatupkan bibirku. Dia menyebutkan namaku di tidurnya! Apa aku tidak salah dengar? Tak lama, dia mengigau lagi, melanjutkan perkataannya yang tergantung tadi. Aku mencoba menjadi pendengar yang baik dan melupakan maksud jahatku untuk meneriakinya.

“Aku tidak bisa membatalkan perjodohan ini. Mianhaeyo.” Dari kedua matanya kulihat sebening kristal keluar. Posisinya yang tidur menyamping membuat air itu jatuh membasahi hidungnya yang tidak terlalu mancung. Tanganku tergerak untuk menghapus airmata bening itu. Entah kenapa, aku tidak pernah tenang jika melihat yeoja ini menangis. Ini sudah kali kedua dia menangis di depanku.

Kuhapus dengan pelan tanpa berniat membangunkannya dari tidurnya yang terlihat lelap.

“Aku menyayangi Appa-ku. Aku tidak bisa meminta padanya agar dia membatalkan perjodohan. Aku tidak bisa. Eotteoke?” dia kembali mengigau. Setelah agak lama aku menunggu, dia tidak mengigau lagi.

Kubaringkan tubuhku di atas sofa hitam panjang yang ada di dekat balkon kamarku. Selama sejam, aku terus memikirkan soal perjodohanku dengan Inhyun. Aku belum memberitahukan perjodohan ini pada Hae Ri. Bagaimana reaksinya jika dia tahu aku akan dijodohkan dengan orang lain? Kuambil ponselku dan mengetik nomor yang sudah kuhapal di luar kepala.

“Yoboseyo, Hae Ri-ya.”

“…”

“Aku mengganggumu syuting, ya? Aniyo, aku hanya ingin tahu kabarmu di sana.”

“…”

“Selama seminggu di sana, kau harus perhatikan pola makanmu. Kau tidak boleh terlalu lelah. Aku tutup teleponnya. Bye, Hae Ri-ya.”

Kuputuskan sambungan telepon dan menaruh ponselku di atas perutku. Kututup mataku perlahan karena rasa kantuk mulai menguasaiku. Mencoba untuk sejenak melupakan permasalahan di dunia nyata.

***

[Inhyun’s POV]

Aku bangun dari tidur lelapku dan melihat jam weker yang berada di atas meja kecil, tepat di samping tempat tidur milik Kyuhyun. Kubulatkan mataku saat kusadari bahwa jarum jam itu sudah menunjukkan jam 12 malam lewat. Omo! Kenapa aku malah ketiduran di sini? Juga, kenapa Ahra dan Ahjumma tidak membangunkanku dan menyuruhku pulang?

Kudengar suara dengkuran tak jauh dari tempat tidur. Kuputar bola mataku dan melihat Kyuhyun sedang tertidur di atas sofa hitam panjang di dekat pintu kaca balkon kamar yang masih terbuka. Dia tidur dan mendengkur dengan sangat keras. Tidurku pasti sangat lelap, bahkan suara dengkuran namja ini tidak mengganggu tidurku.

Kuturunkan kedua kakiku dari tempat tidur dan melangkah menuju balkon. Kulangkahkan kakiku pelan agar tidak membangunkan namja itu. Jika dia bangun, aku pasti akan mendapat amukan darinya. Lagipula, ini juga salahku. Kenapa aku bisa tertidur saat menunggunya? Kututup pintu balkon agar angin malam tidak masuk ke dalam kamar. Setelah itu, aku mengambil selimut dari atas tempat tidurnya dan menyelimuti dirinya yang masih tidak menyadari perbuatanku.

Aku hampir saja menginjak ponselnya yang tergeletak di atas karpet kamarnya. Mungkin terjatuh saat dia tidur. Kuambil ponsel itu dan melihat wallpaper ponselnya. Di layarnya, terpajang foto selca dirinya bersama Hae Ri. Ada sebuah kalimat di ujung foto itu.

Happy Anniv’ of 2nd Years Relationship of ‘Kyu-Hae’^^~

Aku tersenyum kecut. Aku benar-benar jahat jika menerima perjodohan ini yang bisa membuat hubungannya dengan Hae Ri berakhir. Apalagi setelah aku tahu mereka sudah menjalani hubungan yang cukup lama. 2 tahun. Itu bukan waktu yang singkat. Waktu itu sulit dipertahankan bagi mereka yang bahkan pasti jarang bertemu satu sama lain.

Kini mataku beralih memandang wajah Kyuhyun. Ajaib! Dengkurannya sudah berhenti. Terlihat dengan jelas kerutan yang tercetak di dahinya. Apa yang sedang dipikirkannya saat ini? Sedetik kemudian dia menyunggingkan senyum sambil menggumamkan nama Hae Ri di bibir pucatnya.

Di antara banyaknya namja di dunia ini yang bisa dijodohkan olehku, kenapa harus dia?

Mianhae, Appa. Menjodohkanku dengannya bukanlah keputusan yang tepat. Aku bersedia dijodohkan dengan orang lain daripada kau harus menjodohkanku dengan dia. Bukankah masih banyak orang lain di luar sana? Walaupun aku tahu Appa akan kecewa jika aku mengatakan ini, aku harus tetap mengatakannya.

Aku benar-benar tidak bisa menjalankan perjodohan ini.

-ooo-

“Aigoo. Apa yang kalian lakukan semalaman di dalam kamar seperti itu? Kalian ingin membuat Kyuhyun atau Inhyun kecil sebelum kalian menikah? Kkkk~” goda Ahra yang lantas membuat pipiku bersemu merah. Sedangkan Kyuhyun terlihat mengabaikan perkataan Ahra.

“Aniyo, Eonnie. Jangan berbicara yang tidak-tidak.” Sahutku membela diri. Ahra masih terkekeh pelan. Kenapa Noona Kyuhyun ini sangat hobi menggodaku dan Kyuhyun seperti ini?

“Untung saja Appa sedang keluar kota. Kalau tidak, kalian bisa dimarahi Appa.”

“Ahra-ya, berhenti menggoda mereka.” Peringat Nyonya Cho seraya mengoleskan selai nanas di atas roti. Setelah selesai, dia lalu memberikan roti itu padaku. “Makan yang banyak.” Nyonya Cho tersenyum sekilas padaku. Aku membalas senyumannya. Kali ini, aku kembali merasakan hangatnya sikap seorang Eomma. Setelah belasan tahun lamanya aku kehilangan figur Eomma di hidupku, aku benar-benar merindukan sikap hangat ini. Biasanya Appa juga memperlakukanku seperti ini, tapi tentu saja rasanya berbeda.

Aku menemukan Eomma-ku di dalam diri Nyonya Cho. Tapi ini tidak akan pernah terjadi lagi setelah aku mengatakan keinginanku untuk membatalkan perjodohan ini. Ini bukan keinginan sepihak. Cho Kyuhyun juga menginginkan hal ini terjadi. Lebih baik aku mengatakannya sekarang saja.

“Ahjumma,” ucapku lirih. Nyonya Cho mengalihkan perhatiannya dari roti dan memandangku. Diletakkannya kembali pisau yang dipakainya untuk mengoles roti di samping piring. Hatiku semakin berdebar untuk segera mengatakannya. Tidak hanya Nyonya Cho yang memandangku dengan lekat sekarang, Ahra juga ikut memandangku, menantikan kelanjutan kalimat yang terucap dari bibirku. Sedangkan Cho Kyuhyun? Dia masih sibuk dengan ponsel dan PSP-nya yang menemani sarapannya pagi ini.

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Ahra tidak sabar.

“Aku,” tanganku bergetar hebat saking gugupnya. Kucoba menyembunyikan kegugupanku itu. Aku menggenggam erat kedua tanganku di balik meja makan. Posisi Ahra dan Nyonya Cho yang berada di seberangku tidak akan bisa melihatku seperti ini, tapi Kyuhyun bisa. Dia bisa melihatnya karena dia duduk di sampingku. Aku bersyukur bahwa perhatiannya sekarang adalah pada ponsel dan PSP-nya, sama sekali tidak memperhatikan percakapan di antara aku dan Noona serta Eomma-nya.

“Aku ingin membatalkan perjodohan ini.” Aku kemudian membuang nafas lega setelah mengucapkan kalimat itu. Kulihat Ahra dan Eomma kaget dengan keputusanku ini. Ahra bahkan sampai menjatuhkan sendoknya ke lantai dan menimbulkan bunyi nyaring.

“Mwo?” pekik Ahra kemudian.

-ooo-

[Kyuhyun’s POV]

“Mwo?” pekik Ahra. Aku kemudian melemparkan serbetku ke arahnya. Masih pagi, dia sudah membuat ribut. Apa yang membuatnya berteriak seperti ini?

“Yak! Kenapa kau berteriak?” tanyaku kesal. Ahra kembali melemparkan serbet tadi ke arahku dan sukses mendarat di atas kepalaku. Kusingkirkan serbet itu dengan cepat dari atas kepalaku.

“Kau tidak dengar tadi?” tanyanya sambil melotot padaku. Aku menggeleng dan kulihat Eomma sedang memandang Inhyun dengan ekspresi kaget. Apa sebenarnya yang mereka bicarakan ini?

“Kau ingin membatalkan perjodohan? Kenapa?”

Inhyun memberitahukan Eomma soal pembatalan perjodohan ini? Pantas saja wajah Eomma berubah menjadi pucat pasi seperti itu.

“Katakan apa kesalahan Kyuhyun sampai kau ingin membatalkan perjodohan! Aku akan menghajarnya sampai mati!” seru Ahra membuatku bergidik ngeri. Jitakan Ahra saja sudah sangat sakit apalagi dia berkata ingin menghajarku. Andwaaaee!

Ahra melirikku dan kemudian memandang Inhyun lagi. Tangannya sudah terkepal dengan kekarnya di atas meja. Sekali saja dia melayangkan pukulan itu ke arahku, gigiku bisa rontok satu persatu.

“Kyuhyun tidak melakukan kesalahan apa-apa, Eonnie.” Inhyun mengelengkan kepalanya. “Justru karena dia terlalu baik. Dia terlalu baik untukku, Eonnie. Lagipula, dia punya yeojachingu. Kalian tidak tahu? Kalian lebih baik membiarkan dia bersama yeojachingu-nya daripada bersamaku.”

“Aish! Bukan dia yang terlalu baik untukmu. Tapi kau yang terlalu baik untuknya, Inhyun-ah!” Ahra mengoreksi perkataan Inhyun. Aku menoleh ke arah Inhyun. Yeoja itu tampak tidak tenang. Kedua tangannya tergenggam erat di bawah meja untuk meredam getaran tangannya karena gugup. Ucapan Ahra Noona tadi juga tidak bisa membuatnya tenang sedikit.

“Inhyun-ah…”

Suara parau Eomma mengalihkan perhatianku. Muka Eomma masih pucat. Apa dia benar-benar mengharapkan perjodohan ini terjadi? Jika tidak, tidak mungkin dia akan sekaget ini hingga wajahnya pucat pasi seperti mayat.

“Ahjumma benar-benar ingin mempunyai menantu sepertimu.”

Dugaanku benar. Eomma sudah jatuh hati pada yeoja ini. Apa yang disukainya dari Inhyun? Hae Ri bahkan lebih baik dari yeoja di sampingku ini. Aku mengingat igauannya semalam. Dia berkata kalau dia tidak akan membatalkan perjodohan ini. Kenapa dia malah mengatakan hal yang sebaliknya sekarang? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya.

“Tapi, Ahjumma…” kalimatnya terhenti saat aku menjulurkan tanganku dan memegang tangannya yang gemetar karena gugup. Aku tersenyum sekilas padanya, membuat dia tertegun cukup lama untuk melihatku.

Ahra Noona dan Eomma hanya bisa diam ketika aku, untuk pertama kalinya memegang tangan yeoja itu.

Ahjussi menaruh banyak harapan padamu, Kyuhyun-ah.

“Aku dan dia tidak akan pernah membatalkan perjodohan ini, Eomma.” Aku tersenyum terpaksa pada Eomma-ku. Tidak bisa kujelaskan ekspresi bahagia yang muncul di wajah Eomma dan Ahra Noona mendengarku berkata seperti itu. Mereka berdua berteriak tidak jelas.

“Kyuhyun-ssi, kenapa kau melakukan ini? Kau gila? Kau bodoh?!” bisik Inhyun dengan mata melotot ke arahku yang masih memegang tangannya. Kulepas tanganku dan membuang muka. Dia kembali memanggilku ‘bodoh’. Tidak hanya ‘bodoh’, dia juga memanggilku ‘gila’. Kalau dia tahu alasan kenapa aku menyetujui perjodohan ini, akan kusuruh dia menarik perkataannya kembali.

“Kau…”

“Ini baru dongsaeng-ku! Aaaa, kita akan menjadi keluarga!” Ahra Noona merangkul pundakku dann pundak Inhyun. Kami berdua hanya bisa melontarkan senyum pada Ahra Noona. Sedangkan Eomma sudah sibuk dengan ponselnya. Sepertinya dia akan menelepon Appa soal perjodohan ini.

Hanya satu yang ada di pikiranku.

Bagaimana cara untuk menjelaskan semua ini pada Hae Ri.

to be continued

-ooo-

64 pemikiran pada “[Kyu-Inhyun] Our Marriage | 1st : Unexpected Matchmaking

  1. Tuan go punya penyakit ?? Kenpa bilang mau nyusul istrinya.
    Tuan Go juga langsung nemuin kyuhyun buat jadiin dia menantu, ahhh udah nikah aja

  2. appa’y inhyun sakit yaa kok bilang mau mnysul eomma inhyun..kasian jg sm inhyun ya smpe rela membatalkan perjodohan demi kyu yg udh pny yeoja..gimana jd’y inhyun sm kyu kalo nikah..?apa kyu bakal menduakan inhyun dgn ttp sm2 hae ri..?selingkuh dong kyu nanti sm hae ri..ahhh pst nanti kasian inhyun kalo jd nikah sm kyu..

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s