Na-Eun’s Great Father


Na-Eun's Great Father


Pria bertubuh tinggi itu segera melonggarkan dasi yang sejak pagi mencekik lehernya. Kemeja putihnya telah tertanggal ketika ia masuk ke dalam dapur apertemennya untuk menegak air mineral bagi kerongkongannya yang kering. Terlihat raut lelah yang begitu jelas pada wajahnya. Perusahaan yang dipimpinnya berkembang pesat—terlalu pesat sepertinya hingga dia tidak punya waktu untuk bersantai ria tiga tahun terakhir ini. Hari ini saja, sejak pagi hingga sore menjelang malam, dia harus menghadiri beberapa meeting penting. Besok pun ada setumpuk agenda yang harus dihadapinya.

Tiap pulang, apertemen selalu sepi. Tidak ada satu pun yang menyambut atau pun menunggunya pulang di sana. Resiko workaholic, selain kerja dan berhubungan dengan mitra kerja, dia tidak punya waktu berhubungan dengan wanita. Tidak terhitung sudah berapa wanita cantik yang pulang pergi di kehidupannya. Ada beberapa yang tersangkut di hatinya, sayangnya tidak pernah betah berlama-lama. Selalu saja ada alasan berpisah sebelum dia membawanya menuju satu hal yang bernama pernikahan.

Seperti yang dikatakan sahabatnya, wajahnya boleh tampan, dia boleh kaya, tapi sayang, sepertinya dia belum beruntung dalam urusan jodoh. Ya, miris memang, tapi itulah hidup, kadang memang selucu itu.

Bel apertemennya berdering, mengusiknya saat dia nyaris terlelap. Dia mencoba mengabaikan, tapi bel terus berbunyi, melarangnya terlelap sebelum dia membuka dan menerima kedatangan tamu. Dengan kesal dia segera menuju pintu depan, melihat layar interkom dan menekan tombol speaker.

“Siapa?” tanyanya. Ditatapnya seorang wanita berumur sekitar 40-an yang berdiri di depan pintunya. Wanita misterius, dia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Ingatannya tidak pernah salah dan meragukan sampai saat ini.

“Saya dari Panti Asuhan Haneul, Jung Seo Hwa.”

Ne? Maaf, saya tidak mengenal Anda sebelumnya. Ada perlu apa?”

“Maaf mengganggu malam Anda, tapi saya datang untuk mengantarkan ini…”

—oOo—

Cho Kyuhyun buru-buru meluncur ke tempat sahabatnya, Choi Siwon, saat ponselnya berdering jam 12 malam lewat karena telepon dari pria itu yang menyuruhnya segera datang. Kyuhyun terkejut saat Siwon menyambutnya dengan wajah panik. Tentu saja hal yang dihadapi Siwon sangatlah krusial mengingat pria itu jarang mengeluarkan ekspresi seperti itu. Terakhir kali dia melihat Siwon yang kalang kabut saat saham perusahaannya turun drastis. Mustahil kalau sahabatnya itu kembali panik karena saham, sebab tiga jam yang lalu, sebelum tidur Kyuhyun sempat mengecek saham dan saham perusahaan milik Siwon masih menduduki puncak tertinggi.

“Woah!” Kyuhyun berteriak kecil, terkejut saat mendapati sesosok anak perempuan berambut panjang yang duduk di sofa ruang tengah. Dia lalu menatap Siwon dengan penuh tanya. “Anak siapa itu?”

Siwon menghela napas, mengambil sebuah kertas di samping TV dan menyerahkannya ke Kyuhyun. “Percaya atau tidak, dia anakku.”

Mwo?! Ya! Jangan bercanda!seru Kyuhyun. Siwon menggeleng lalu menginstruksikannya membaca beberapa baris kalimat di atas kertas yang baru saja diberikannya.

Aku yakin kau awalnya tidak percaya, tapi dia Naeun, anak kita. Anak yang lima tahun lalu lahir di bulan November tanggal 24. Maaf, selama ini aku merahasiakannya darimu. Aku tidak bisa mengatakan alasan mengapa aku membawa Naeun dihadapanmu tiba-tiba seperti ini, tapi tolong, jaga dia baik-baik. Harapanku hanya ada padamu. Kau satu-satunya orang yang kupercaya untuk menjaganya selama aku tidak ada. Aku…akan kembali, walaupun aku sendiri tidak pernah tahu apa aku punya kesempatan untuk itu.

Siwon-ssi, tolong, aku percaya padamu.

S.J.S

“Kau punya anak berumur lima tahun dan kau tidak pernah tahu? Gila! Kau benar-benar gila!” Kyuhyun menggeleng tidak percaya. “Dan siapa wanita berinisial S.J.S ini? Apa aku mengenalnya?”

“Shim Jae Sik,” ucap Siwon, nyaris berbisik. “Dia meminta tolong pada pihak panti asuhan membawa anak ini kemari. Aku sendiri tidak tahu di mana dia sekarang. Pihak panti juga tidak tahu.”

Kyuhyun mencoba mengingat wanita bernama Shim Jae Sik yang disebut Siwon. Terbesit sesosok wanita berambut panjang yang berhasil mencuri perhatian Siwon tujuh tahun yang lalu. Wanita itu bekerja di tempat laundry langganan Siwon. Kyuhyun masih ingat bagaimana bahagianya Siwon saat Jae Sik menerima pernyataan cintanya dan betapa sakitnya Siwon ketika wanita itu harus pergi karena hubungan mereka tidak direstui orangtua Siwon. Masalah klasik, keluarga chaebol Siwon tentu saja tidak bisa menerima anaknya berhubungan dengan wanita laundry yang jelas tidak punya apa-apa.

“Kau yakin anak ini benar-benar anakmu? Bisa saja, ya…dia, kau tahu, siapa tahu dia menjebakmu.”

“Ya, siapa tahu. Tapi, ada beberapa alasan yang membuatku percaya. Yang pertama, aku memang pernah menjamahnya sekali sebelum kami berpisah. Yang kedua, kau tahu kemampuanku, kan?” Siwon bertanya dan Kyuhyun mengangguk tahu kemampuan yang dimiliki Siwon. Sahabatnya itu mampu membaca kebohongan, kemampuan yang sangat berguna bagi pebisnis sepertinya. “Aku tidak bisa menemukan kebohongan dari setiap kata dan gerak-gerik pihak panti itu. Jadi, aku berpikir…Naeun ini benar-benar anakku.”

Kyuhyun lalu mengalihkan pandangannya pada anak perempuan yang sibuk dengan boneka teddy bear-nya. Anak yang benar-benar manis. Naeun, anak itu lebih mewarisi wajah Ibunya, tapi dia bisa melihat sedikit ‘Siwon’ di sana. Kedua bola mata bening itu sama dengan milik Siwon.

“Matanya persis milikku.”

“Hm,” respon Kyuhyun pendek. “Jadi, bagaimana?”

“Mau bagaimana lagi? Naeun tinggal di sini, bersamaku. Sementara itu, bantu aku mencari wanita itu.”

—oOo—

“Aku tidak bisa percaya ini.”

Wanita tua itu berulang-ulang berkata seperti itu sembari memijit-mijit pelipisnya. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit saat dia tiba di apartemen Siwon dan menemukan seorang anak yang sebelumnya tidak pernah ada di sana. Ditambah dengan penjelasan-penjelasan yang terdengar memuakkan di telinganya semakin membuat kepalanya sakit dan rasanya mau pecah. Tatapan tajamnya pada Naeun seakan-akan ingin menerkam anak itu. Naeun yang ketakutan pun bersembunyi di belakang punggung Siwon.

“Di mana perempuan jalang itu?! Berani-beraninya meninggalkanmu seekor tikus got dan pergi seenaknya!”

Eomma!” seru Siwon, tidak terima dengan ucapan Ibunya.

Wae? Lagipula, apa kau yakin tikus got itu adalah darah dagingmu? Benar-benar mencurigakan! Pantas saja feeling Eomma padanya sejak awal selalu tidak enak—“

“Hentikan, Eomma.

“Wanita pembawa sial. Anak itu juga pasti pembawa sial. Singkirkan dia sejauh mungk—“

Geumanhae!” Seruan Siwon naik beberapa oktaf, jelas dia sedang marah, marah karena perkataan lancang Ibunya. Berhasil, wanita itu pun bungkam seribu bahasa. Siwon mendesah pelan dan menatap lekat Ibunya. Semakin ditatapnya, dia semakin tidak percaya bahwa dia lahir dari rahim wanita yang selalu merendahkan orang lain seperti itu.

“Aku akan tetap mempertahankan Naeun. Titik.”

—oOo—

Keputusannya untuk mempertahankan Naeun di sisinya tentu saja membuat Ibunya semakin murka. Saking murkanya, dia berani menendang anaknya sendiri dari posisi direktur utama, menarik apartemen mewah Siwon serta aset-aset yang ada pada anaknya itu, membuat Siwon berhasil menjadi gelandangan dalam waktu seminggu saja.

Bukan maksudnya benar-benar menjadi gelandangan, hanya saja hidup Siwon berubah drastis sejak itu. Tabungannya dipakai membeli sebuah rumah di pinggir kota Seoul. Rumah kecil dengan halaman depan yang bisa menjadi tempat bermain Naeun.

“Kau benar-benar Siwon yang kukenal?”

Kyuhyun datang berkunjung di rumah baru Siwon dan melihat pria itu sedang sibuk menata barang-barang di rumahnya. Siwon yang biasanya dalam balutan jas dan kemeja yang membuat setiap pegawai wanita di perusahaannya menjerit kini hanya mengenakan celana puntung dan kaos lusuh. Itu membuatnya benar-benar tidak percaya.

“Apa yang membuatmu bisa berada dalam posisi seperti ini?”

Kyuhyun bisa tahu jawabannya saat Siwon melirik Naeun yang tak jauh dari mereka. “Oh, gila! Kenapa bisa kau senekat itu?”

“Matanya, Kyu,” ujar Siwon. Kyuhyun heran dan mulai menatap mata Naeun. “Aku tahu dia anakku meskipun tanpa tes DNA sekali pun. Matanya itu, itu mataku. Aku yang mewariskannya padanya. Aku yang membuatnya ada, aku yang membuat dia terlahir ke dunia ini dan membuatnya berada dalam posisi seperti ini. Bagaimana bisa aku tidak mempertahankannya setelah apa yang aku lakukan padanya selama lima tahun ini?”

Kyuhyun terdiam, memikirkan banyak hal di benaknya hingga dia kembali mengatai Siwon gila.

“Aku ini seorang pria yang tidak akan lari dari tanggung jawab.”

“Aku tahu itu dan itu benar-benar tindakan yang nekat.”

Siwon hanya tersenyum mendengar Kyuhyun yang terus-terusan mengatainya gila dan nekat. Dia tidak menyangka sahabatnya itu akan berakhir seperti ini, tinggal di sebuah rumah kecil, pengangguran dan harus mengurus anak kecil berumur lima tahun. Siwon, anak chaebol yang harus merasakan pahitnya hidup sebagai orang yang tidak berada.

“Kau kerja di perusahaanku saja.”

Kyuhyun menawarkan pekerjaan pada Siwon. Tidak tanggung-tanggung, dia berani memberikan posisi general manager pada pria itu, posisi yang menjanjikan dengan gaji yang menggiurkan. Dia tidak tahan melihat Siwon menjadi susah seperti ini dan dia siap membantu dengan cara memberi pekerjaan, dengan itu dia bisa menghidupi dan mencukupi kebutuhannya bersama Naeun. Tapi, tanpa diduga, Siwon menggeleng, menolak penawarannya.

Wae? Kau ingin Naeun makan batu?!”

“Aku tidak berminat kerja kantoran. Terlalu monoton,” ujar Siwon, memberi alasan. “Aku masih punya sisa tabungan. Akan kupakai sebagai modal usaha membuat kafe. Kau tidak perlu khawatir, Kyuhyun-ah.”

“Aku sahabatmu, bodoh. Bagaimana bisa aku tidak khawatir melihat hidupmu seperti ini?”

Siwon meneguk minuman kalengnya dengan mata yang terus mengawasi gerak-gerik Naeun yang bermain sepeda di halaman depan, takut terjadi apa-apa pada putrinya itu. “Kadang di atas, kadang di bawah. Begitulah roda kehidupan, Kyu. Hidup butuh variasi. Aku sudah terlalu lama di atas, saatnya untuk turun. Yang harus kulakukan di sini adalah survive dan keep going, agar roda itu kembali berputar dan menempatkanku kembali di atas.”

Kyuhyun merangkul Siwon dan tersenyum cerah. “Itu yang aku salut darimu. Semangatmu dan kepercayaan dirimu mengarungi hidup.”

Siwon terkekeh kecil. Pria itu kemudian buru-buru beranjak dari duduknya, berlari mendekati Naeun yang terjatuh. Anak itu menangis karena luka kecil di lututnya. Siwon menepuk-nepuk punggung kecil putrinya, berulang kali mengatakan ‘tidak apa-apa’ hingga Naeun berhenti menangis. Saat itulah Kyuhyun melihat perubahan yang besar pada Siwon ketika dia dituntut menjadi orangtua tunggal untuk Naeun. Siwon belajar cepat, berubah dari seorang ‘pria’ menuju ke tahap yang lebih dewasa.

Seorang Ayah.

—oOo—

Appa!

Sebuah lengan melingkar di tubuh Siwon saat dia sibuk membuat minuman pesanan pelanggan kafenya. Pelukan itu melonggar dan anaknya itu segera mengenakan apron cokelat bermotif polkadot dengan logo kafe di sudut kiri atas lalu menyusulnya dan ikut membantu.

“Kau tidak bolos kuliah, kan?”

Ani.Wae?” Naeun bertanya tanpa menatap Siwon sedikit pun. Dia sedang sibuk berkutat dengan mesin kopi di hadapannya.

“Karena tumben sekali kau cepat datang. Biasanya kau datang saat sore.” Siwon menekan tombol lalu pelanggan yang memesan datang, menukar alarm dengan minuman yang disodorkan Siwon. “Terima kasih.”

“Cepat datang salah, lama datang pun salah.” Naeun pura-pura kesal, mencebikkan bibirnya yang membuat Siwon segera menyentilnya pelan. Naeun meringis kesakitan sembari melotot pada Siwon. “Appa!

Appa tidak punya anak jelek yang mencebikkan bibirnya,” kata Siwon lalu disambut kekehan kecil Naeun. Siwon lalu melepas apronnya, berjalan menuju pintu menuju ruang pegawai dan mengambil sesuatu di sana. Tak lama, dia kembali muncul, memanggil Naeun.

“Kau belum makan siang, kan? Mind to have a lunch with Dad?”

—oOo—

Sudah berapa tahun berlalu sejak Siwon harus memulai hidupnya dari nol? Waktu terus berlalu. Siwon sudah menyicipi pahit manis kehidupan dalam rentang kurang lebih lima belas tahun ini. Bisnis kafenya beberapa kali jatuh bangun, membuatnya terpaksa berhutang pada Kyuhyun untuk modal awal. Belum lagi dia dipusingkan untuk mengurus Naeun dari seorang anak kecil yang polos dan tidak tahu apa-apa menjadi seorang gadis cantik dan berwawasan luas seperti sekarang ini. Banyak cerita di antara mereka berdua.

“Appa, aku berdarah!” Naeun menghampiri Siwon sambil menangis tersedu-sedu.

“Lukanya di mana? Memangnya kau jatuh di mana?” tanya Siwon panik. Naeun tanpa malu memperlihatkan underwear-nya pada Siwon. Siwon awalnya tidak mengerti, dia sampai menanyakan hal itu pada Kyuhyun. Kyuhyun secara gamblang mengatakan Naeun mengalami menstruasi. Inhyun, istri Kyuhyun, sampai pergi ke rumah Siwon, berbicara empat mata dengan Naeun. Bagaimana pun juga, itu urusan perempuan dan Siwon tidak mengerti apapun tentang itu.

 

“Appa! Bagaimana cara memakai ini?” Naeun menggantung sesuatu di depan wajah Siwon saat pria itu sedang mencoba untuk tidur siang. Siwon membulatkan mata melihat apa yang ada di depannya. Seingatnya dia tidak pernah membelinya untuk Naeun.

“Da-darimana kau mendapatkan itu?” tanya Siwon.

“Pulang sekolah, aku menemani temanku belanja. Mereka semua membeli ini, karena aku tidak mau ketinggalan, aku juga membeli satu.” Naeun menyengir lebar. “Jadi, bagaimana caranya?”

Siwon dengan seksama memerhatikan benda yang Naeun taruh di atas perutnya. Memutar otak untuk menjelaskan cara memakainya. Tapi, dia tidak punya pengalaman memakai, yang ada dia tahu cara melepaskannya.

“Appa tidak tahu, tanya saja pada Inhyun Imo.”

“Dia sedang ke Jerman.”

“Ada video call-kan, Naeun-ah?”

“Oh, iya. Baiklah!”

Naeun berlari meninggalkannya dan Siwon pun menghela napas lega. Sialnya, dia tidak bisa tidur siang memikirkan benda berwarna pink dengan gambar kelinci itu. Itu akan mudah kalau anaknya laki-laki, tapi Naeun seorang anak perempuan yang secara bertahap berubah menjadi seorang gadis. Ada saat tertentu di mana Siwon tidak mampu membimbing anaknya. Benar-benar sulit walaupun sebenarnya gampang.

“Lagipula, bukankah bra itu terlalu besar untuk miliknya yang masih…ah, sudahlah.”

 

Appa, besok ulangtahun Eomma.

“Oh, iya. Besok tanggal 14 Mei, ya?”

“Kali ini kita bawa bunga apa untuknya?” tanya Naeun sambil menerima sepotong kimbap yang Siwon masukkan ke dalam mulutnya. Siwon mengacak poni Naeun yang masih kekanak-kanakkan dan manja padanya. Di umurnya yang sudah 20 tahun, dia masih minta untuk disuap.

“Bunga yang mirip dengan Eomma-mu.”

—oOo—

Suasana hening seperti biasanya, hanya ada semilir angin lembut musim semi yang menyambut kedatangan mereka. Bunyi gesekan dahan-dahan pohon poplar yang berbaris rapi terdengar seperti alunan melodi yang menghibur. Ada dua orang anak manusia yang sedang memberi persembahan di pusara sebuah gundukan tanah yang tingginya mencapai perut orang dewasa.

Eomma, kami datang. Saengil chukhae.” Naeun menaruh sebuket white daisy, bunga yang melambangkan kesederhanaan dan kelembutan. Bunga yang mirip dengan sifat Ibunya, setidaknya itu yang disampaikan Siwon padanya.

Siwon memutar-mutar cincin di jari manisnya. Ada banyak kenangan yang tersimpan dalam memorinya tentang wanita bernama Shim Jae Sik, Ibu Naeun, istrinya. Setahun setelah Naeun tinggal bersamanya, Kyuhyun datang membawa kabar. Kabar bahagia dan juga kabar buruk. Dia berhasil menemukan Jae Sik, tapi wanita itu tengah dalam kondisi lemah tidak berdaya di rumah sakit.

Akhirnya Siwon tahu apa alasan Jae Sik membawa Naeun padanya. Wanita itu mengidap kanker otak stadium akhir. Dia tidak bisa melakukan apa-apa dan begitu banyak selang-selang yang terhubung padanya. Matanya yang sendu terlihat berbinar-binar saat Siwon membawa Naeun untuk bertemu dengannya. Ada rindu yang besar di sana.

Siwon memutuskan menikahi Jae Sik. Janji pernikahan diucapkan dengan penuh haru di dalam ruang rumah sakit, disaksikan Kyuhyun dan istrinya. Tidak lama setelah pernikahan, Jae Sik berpulang ke penciptanya dengan senyum yang terukir di bibirnya. Kehadiran Siwon dan Naeun yang menjadi sumber bahagianya bahkan sebelum dia mengembuskan napas terakhir. Dia sangat bersyukur akan hal itu.

“Naeun sudah besar,” ucap Siwon pelan. “Dia tumbuh cantik, persis dirimu.”

Appa semakin tua, Eomma.” Naeun berkata sambil tertawa kecil. “Aku menyuruhnya mencari kekasih agar tidak kesepian, lagipula aku tidak keberatan punya Eomma baru,” lanjut Naeun seraya melirik Siwon.

Pria itu menggeleng. “Mana mungkin ada yang bisa menggeser tempat Eomma-mu di sini?” tanyanya lalu menunjuk hatinya sendiri. “Hati Appa sudah sangat sesak hanya untuk kalian berdua, tidak ada tempat untuk orang lain.”

Jeongmal?”

“Ya, cinta Appa sudah stuck pada Eomma-mu dan padamu. Itu tidak perlu kau ragukan lagi.”

—oOo—

Siwon membuka daun pintu berwarna putih itu dengan jantung yang berdebar-debar. Terdengar nyanyian kecil Naeun yang sedang menatap bayangnya pada cermin besar yang ada di hadapannya. Dia langsung menoleh saat melihat pintu di belakangnya terbuka dan tersenyum pada Siwon yang masih ada di bibir pintu. Siwon terperangah melihat kecantikan Naeun di hari spesialnya itu. Tubuhnya mengenakan sebuah gaun berwarna edelweiss white. Rambut panjangnya mendapat kepang model french braid, sederhana namun tetap menampilkan keanggunannya. Ada sebuah tiara yang dikenakan di atas kepalanya, bersatu dengan kain tipis yang akan menutup wajahnya saat berjalan menuju altar.

Benar-benar cantik.

Appa! Bagaimana? Apa aku terlihat cantik?”

Siwon mengajukan jempolnya. “Tentu saja anak Appa sangat cantik. Pengantin prianya harus berterimakasih banyak pada Appa karena mengizinkannya meminang anakku ini.”

Naeun tersipu malu. Siwon mengajaknya duduk, berbicara empat mata dengannya sebelum acara pernikahan dimulai. Naeun bisa mencium tanda-tanda Ayahnya itu akan memberikan nasehat-nasehat sebagai bekalnya dalam hidup berumah tangga. Sebelum berbicara pun, kedua mata Siwon sudah terlihat berkaca-kaca.

“Akhirnya Appa sampai di tahap ini,” ujarnya. “Aku sekarang tahu rasanya bagaimana perasaan seorang Appa yang akan melepaskan putrinya untuk dipercayakan pada pria lain. Apalagi untuk seorang orangtua tunggal sepertiku, aku benar-benar berat harus membiarkanmu pergi. Sejak dulu kita hanya berdua, Appa yang mengurusmu sendirian, jadi aku benar-benar tahu bagaimana dirimu.”

Appa…”

“Aku melepaskan semua yang kupunya untuk mempertahankanmu. Menjagamu sepenuh hati dan tidak mengizinkan orang lain menyakitimu walau sedikit pun. Kau sumber kebahagiaan Appa, melihatmu senang juga membuatku senang. Appa harap Jong In juga melakukan hal yang sama dengan apa yang Appa lakukan padamu.”

Naeun menggenggam erat tangan Siwon. “Setiap anak perempuan di dunia ini menginginkan sosok pendamping hidup yang sama seperti Appa-nya. Aku mendapat sosok Appa dalam diri Jong In. Percayalah, dia tidak mengecewakan aku dan Appa.

Air mata menggenang di mata mereka masing-masing. Siwon menarik saputangan dari kantong celananya, memberikannya pada putri satu-satunya itu. “Jangan menangis. Make up-mu nanti luntur.”

Naeun tertawa di sela-sela isakan kecilnya. “Appa yang membuat suasananya jadi mengharukan seperti ini.”

“Maaf, maaf.” Siwon membelai rambut Naeun lembut. “Appa hanya ingin memberitahumu sesuatu. Pria dan wanita bagaikan layang-layang dan benang. Tanpa wanita, pria tak akan menjadi apa-apa. Di balik ketinggian—kesuksesan pria, ada wanita di baliknya. Naeun-ah, jadilah benang yang berkualitas terbaik. Buatlah layang-layangmu kelak terbang setinggi-tingginya. Karena setinggi apapun ia terbang, ia selalu terikat olehmu dan bergantung denganmu. Jagalah dia agar tidak putus dan hilang arah. Ingatlah bahwa layang-layang selalu ingin terbang tinggi.”

Naeun mengangguk. “Gomawo, Appa.”

Pintu ruang pengantin wanita terbuka dan seseorang muncul dari balik pintu. “Pengantin wanita diharap bersiap-siap.”

Siwon mengiyakan. Ia menatap Naeun, merasakan tangan putrinya itu bergetar karena gugup. Dieratkannya genggaman tangannya pada tangan Naeun, mencoba menenangkan putrinya meskipun dia juga merasa gugup.

“Ayo, kita temui pengantin priamu.”

—oOo—

Naeun mengamit lengan Siwon yang akan mengantarnya menuju altar. Jauh di sana, di depan altar, berdiri gagah seorang pria dengan jas putih yang melekat di tubuhnya, pria yang tak lama lagi akan mengganti marga Choi dari Ayahnya menjadi Ahn, Ahn Jong In. Pria itu melemparkan senyum manis saat Naeun muncul bersama Siwon.

Denting piano mengiringi langkah Naeun bersama Siwon menuju altar. Tidak henti-hentinya Naeun tersenyum bahagia di balik kain tipis yang menutupi wajahnya. Semakin bahagia dan juga semakin gugup ketika posisinya semakin dekat dengan altar, pendeta dan Jong In.

Jong In membungkuk, meminta izin pada Siwon untuk mengambil pengantin wanitanya. Siwon menepuk bahu pria itu, mendekatkan bibirnya di dekat telinga Jong In, membisikkan sesuatu.

“Kau tahu mengapa wanita tercipta dari tulang rusuk pria, bukan dari tulang kepala? Karena wanita bukan untuk memimpin pria, bukan dari tulang kaki karena wanita bukan alas kaki pria. Wanita tercipta dari tulang rusuk pria, dekat dengan hati agar wanita menjadi pendamping, penjaga hati. Dekat dengan hati untuk disayangi karena wanita akan terlelap dalam dekapan pria. Karena wanita tahu dari sana dia berasal.” Siwon berkata panjang lebar.

“Aku serahkan putriku padamu. Aku sama sekali tidak pernah membuatnya menangis. Kau akan tahu akibatnya kalau dia kabur dari rumah kalian dan datang menangis padaku.”

“Siap.

Semua proses pernikahan berjalan lancar. Siwon merasa bahagia melihat Naeun yang terlihat sangat bahagia setelah mengucapkan ikrar pernikahannya bersama Jong In. Mereka lalu berciuman di depan semua tamu yang hadir. Teman-teman dari Naeun dan Jong In tidak hentinya meneriakkan selamat pada mereka berdua.

“Kau membesarkan putrimu dengan baik.”

Siwon mengiyakan lalu menoleh ke sumber suara. Begitu terkejutnya dia saat melihat seorang wanita berumur lanjut yang duduk di sampingnya, ikut menyaksikan kebahagiaan pengantin baru di depan altar. Wanita itu lalu menoleh pada Siwon. Siwon menatap lekat wajah wanita itu. Di sana terdapat kerutan-kerutan yang tidak pernah ia temukan belasan tahun yang lalu. Dia tidak menyangka, setelah sekian lama, dia kembali bertemu dengannya dalam kondisi seperti ini.

Eomma…

“Setidaknya aku sudah melihat cucuku menikah.” Wanita itu beranjak dari kursinya, meninggalkan Siwon tanpa pamit terlebih dahulu. Siwon sendiri hanya bisa memandang punggung Ibunya dari belakang. Kyuhyun yang melihat hal itu menghampiri Siwon, bertanya apa yang baru saja Ibunya katakan.

“Dia datang untuk melihat Naeun menikah.”

“Benarkah? Ternyata dia masih punya hati. Aku pikir hatinya sudah membeku.”

Siwon tersenyum. Kyuhyun lalu memeluk sahabatnya itu erat. Saking eratnya, Siwon kesulitan untuk menghirup oksigen. “Ya! Ya! Aku tidak bisa bernapas!”

“Selamat, Siwon-ah!” seru Kyuhyun tulus. Dia sangat tahu perjuangan yang dilalui Siwon sampai tahap ini. Tidka mudah membesarkan anak seorang diri. Kyuhyun banyak belajar dari Siwon yang berani bertanggungjawab, merelakan semua yang dia punya untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang Ayah untuk Naeun, berjuang kembali dari bawah hingga dia bisa memutar roda kehidupannya—kembali berada di atas. Sifat tidak menyerah dan kerja kerasnya itu membuat Siwon pantas diacungi jempol.

“Kau pria yang hebat.”

Appa!” Naeun memanggil Siwon dan menghambur ke arahnya. Siwon terkejut karena anaknya itu datang tiba-tiba. Jong In yang berada di belakang Naeun menggelengkan kepala seraya tersenyum melihat tingkah wanita yang sudah menjadi istrinya itu.

“Jangan memeluk Appa seperti ini. Nanti Jong In cemburu padaku,” canda Siwon.

CUP~

Sebuah kecupan mendarat di pipi Siwon, kecupan dari Naeun.

“Terima kasih telah menjadi Appa yang begitu baik dan hebat untukku. Kau yang terbaik, Appa!

—end—


 

15 pemikiran pada “Na-Eun’s Great Father

  1. Anyeong..
    Udh lama gk mampir..
    Hehehe
    Sprti biasa, ceritanya mengharukan bgt eon..
    Penulisan kalimatnya jga bagus..
    ​hehehehe..
    Semangat !!(ง’̀⌣’́)ง nulis lgi ya eon..
    D tg karya selanjutnya..

  2. Ini sempurna, dari awal baca sampai akhir bikin aku kagum aja. Pembawaan yang rapih, tenang, gak buruh-buruh, dan alur yang sumpah, keren banget.
    Setiap kata-kata-nya pun aku suka, cerita perjalan yang menakjubkan. Cucokkk abis kak;’>

    Keep writing:’))

  3. Seandainya semua pria jadi menantu Siwon.. Pasti pas nikah dikasi wejangan kayak gtu sama Siwon…
    Soalnya kadang” kebanyakan suami ga bisa menghargai istri..
    Dan kata” bijak diatas itu bener bgt.. Seharusnya laki” diseluruh dunia harus mesti kudu tahu itu.. Biar ga seenaknya saja memperlakukan wanita..

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s