[Twoshot] Falling


falling

“Jangan menunggu, justru kau yang harus menjemput kesempatan itu sendiri.”

F A L L I N G

Ini cerita cinta yang sederhana.

Bahkan terkesan begitu klise.

Junior yang memendam rasa kagum pada seniornya.

Rasa kagum yang perlahan-lahan berubah menjadi rasa suka hingga rasanya ada yang kurang jika tidak melihat sosoknya terbingkai oleh mata. Rasa berdebar-debar yang kubawa hingga dalam mimpi. Aku sudah cukup senang bukan main saat mata kami berdua tidak sengaja bertabrakan. Kegembiraanku meluap-luap dalam diri kala tak sengaja berada dalam bus yang sama saat pulang sekolah.

Apa aku sinting?

Sudah kubilang, cintaku ini sederhana, bahkan untuk bahagia pun hanya dengan hal-hal sederhana pula.

Bagi kalian mungkin klise, tapi bagiku cinta ini luar biasa.

Memendamnya selama dua tahun bukan perkara yang mudah. Memilih diam sekalipun perasaanku terhadapnya dalam. Banyak hal yang membuatku jadi pecundang seperti ini; utamanya malu dan takut.

Dia terlalu populer.

Dia punya daya tarik, tidak hanya dalam bentuk fisik, tapi dalam dirinya dianugerahi otak yang encer. Guru-guru menyukainya karena ia sering mengharumkan nama sekolah dengan prestasinya. Ia dengan mudah mengalahkan lawan-lawannya saat pemilihan ketua OSIS yang semakin membuatnya terkenal. Banyak anak perempuan yang menyukainya dan menyatakan rasa sukanya, sebaliknya banyak anak laki-laki yang merasa tersaingi jadi membenci dirinya karena merebut semua perhatian anak perempuan. Dia tidak salah apa-apa—dia hanya terlalu sempurna untuk jadi manusia.

Lagi-lagi klise, ya?

Bagi kalian manusia nyaris sempurna seperti dirinya sangat mustahil.

Tapi, dia benar-benar ada.

Kuakui, tidak ada manusia yang sempurna. Sesempurnanya dia di mataku, ia pasti punya kekurangan.

Ya, kadang dia terlihat ramah dan supel. Tapi, kadang dia bersikap dingin. Saking dinginnya, kau bisa merasakan auranya yang menyebar dan membuat bulu kudukmu merinding. Jika sudah seperti itu, jangan harap kau bisa melihat ia tersenyum. Aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu, tapi hal itu pernah terjadi.

Hari ini aku bertemu dengannya di halte dengan ekspresi dinginnya. Jangan tanya seberapa senangnya diriku bisa berangkat sekolah dalam bus yang sama dengannya—abaikan ekspresi dinginnya itu. Sepanjang perjalanan ke sekolah, aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Dia diam, tanpa ekspresi—bahkan tidak tersenyum pada temannya yang menyapanya hangat. Ada apa dengannya? Dia benar-benar misterius bagiku.

Seperti biasa, lokernya dipenuhi dengan surat cinta dan hadiah-hadiah. Seorang siswi memberanikan diri maju ke hadapannya saat dia sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam loker. Aku melihatnya dari kejauhan. Suasana koridor tidak begitu ramai, tapi semua tatapan siswa ke arah mereka berdua dan mereka mulai berbisik-bisik. Di belakang punggung siswi berambut panjang itu ada kotak kecil berwarna biru muda yang telah diikat pita merah muda yang cantik.

“Dia pasti akan menyatakan cintanya secara langsung.”

“Ah, berani sekali dia.”

Aku mendengar bisik-bisik sekumpulan siswi di sampingku. Perhatianku kembali pada siswi itu—kini mereka sudah berdiri dengan jarak yang cukup dekat. Dia dingin sekali. Ia seakan tidak menyadari kehadiran siswi yang bahkan dari melihat dari belakang punggungnya saja, aku tahu bahwa ia begitu gugup.

Aku salut dengan keberaniannya. Aku tidak pernah punya hal seperti itu. Aku selalu merasa cukup dengan mencintainya diam-diam seperti ini, menyisipkan surat tanpa nama ke dalam lokernya, atau memasukkan kotak berisi cokelat saat hari kasih sayang tiba. Aku tidak tahu apakah dia pernah membaca suratku atau mencoba cokelat yang kubuat sendiri dengan susah payah.

Kita hanya butuh kesiapan mental dan keberanian juga mau untuk menanggung konsekuensi dari pilihan yang diambil. Tapi, aku tidak bisa melakukannya.

Kini aku khawatir dengan keberanian yang dimiliki siswi itu.

“Aku menyukaimu.”

Siswi itu menyodorkan kotak yang entah berisi apa. Dia menutup lokernya lalu melenggang pergi, meninggalkan siswi yang membatu di tempatnya berdiri. Dia tidak melirik sedikit pun, jangan harap ia mengucapkan sepatah kata. Tingkahnya itu membuat kami semua tertegun sejenak. Tak lama koridor dipenuhi bisikan-bisikan berbau kasihan pada siswi itu.

Ini yang kutakuti.

Kadang dia bisa menjadi begitu jahat.

Seperti yang ia lakukan pada siswi itu.

Aku tidak siap menghadapi kenyataan bahwa aku pernyataanku tidak dianggapi dan diabaikan bak angin berlalu olehnya. Aku menggeram kesal. Apa dia tidak tahu betapa sulitnya bagi anak perempuan untuk mengaku duluan? Apa dia tidak tahu berapa lama siswi itu menyiapkan dirinya menyatakan cinta di depan umum seperti itu? Kenapa dia sama sekali tidak menghargainya? Meskipun perasaan siswi itu tidak terbalaskan, dia semestinya tidak bersikap acuh seperti itu.

Aku memikirkan kejadian saat istirahat itu sepanjang hari. Juga memikirkan kenapa aku bisa memiliki perasaan tulus pada dia yang berkepribadian ganda seperti itu? Kenapa aku bisa jatuh hati dan betah dengan perasaanku padanya sampai saat ini—bahkan setelah tahu kejelekan yang ia miliki?

“Hidup itu hanya sekali, tapi jika dijalani dengan baik, sekali itu cukup, kok.”

Seorang sahabatku pernah berkata seperti itu. Aku merenungi perkataannya yang tiba-tiba mampir di kepalaku saat aku menyusuri pedestrian menuju halte terdekat dari sekolahku.

Ada yang memilih untuk mengungkapkan perasaannya—seperti siswi itu tadi. Ada pula yang memilih bungkam seribu bahasa—sepertiku, katak yang bersembunyi di bawah tempurung. Semua orang tentu tidak sama, kan? Aku mulai berpikir, jika memang hidup ini hanya sekali, tidakkah diamku ini akan kusesali suatu saat nanti?

Aku mungkin akan menyalahkan masa laluku yang takut mencoba, kemudian menyesali itu semua di kemudian hari. Aku bertanya-tanya, kenapa aku harus takut mengungkapkannya? Mungkin aku akan diabaikan seperti siswi tadi, mungkin dia tidak akan menghargai perasaanku, tapi dari awal aku memang tidak banyak berharap perasaanku ini akan terbalaskan, kan?

Aku jatuh cinta padanya, sedalam-dalamnya, adakah yang salah dengan itu?

Yang salah adalah ketika aku tidak mengungkapkannya.

Seharusnya aku tidak perlu peduli dengan jawabannya, bukan?

Aku hanya perlu berani bicara, menerima konsekuensinya meskipun itu lebih pahit dari pil obat. Apa yang kurasakan ini perlu diperjuangkan meski aku tahu apa yang akan kuterima. Dengan bicara, setidaknya aku sudah berusaha—mencari kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan.

Aku sadar, ini bukan sekedar ditolak atau diterima, ditanggapi atau diacuhkan. Setidaknya aku bisa bernapas lega setelah semuanya terungkap. Selain itu, berbicara hal yang sudah lama kusembunyikan ini bisa kujadikan momen untuk mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran yang melingkupiku.

Aku tahu, semua itu tidak cukup beralasan.

Aku tidak ingin jadi pecundang lagi.

“Ah, bus!”

Aku berlari dengan kencang. Pintu bus yang akan kutumpangi sudah tertutup. Supir sudah bersiap menjalankannya. Ini semua karena aku terlalu banyak pikiran. Aku memukul bodi bus sambil berteriak, menyuruh supir untuk berhenti. Sekitar lima meter, bus akhirnya berhenti dan pintu terbuka. Wajah masam supir menyambutku. Aku menyengir tidak bersalah padanya dan ia mendengus.

Dia duduk di barisan kursi paling belakang.

Mungkin aku salah lihat, tapi pandangannya sedang mengarah padaku.

Karena kurang yakin, aku berbalik ke belakang dan mendapati tidak ada siapa pun di belakangku. Hanya aku yang berdiri di dalam bus—karena sudah tidak ada tempat untuk duduk. Saat aku menoleh kembali ke arahnya, dia sudah mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Aku menggeleng karena jelas aku pasti salah lihat tadi. Aku lalu terpaku dan larut dengan sosoknya. Dalam hati aku meyakinkan tekadku untuk menyatakan perasaanku padanya. Mungkin tidak senekad siswi tadi—menyatakan cinta di depan semua orang. Hanya aku dan dia—itulah batas keberanianku yang kuyakini sekarang.

Jangan pikirkan perkara ditolak atau diterimanya, yang penting jangan sia-siakan waktumu. Mumpung masih diberi waktu, aku ingin menghargainya dengan menggunakannya sebaik mungkin. Kesempatanku mungkin tidak akan datang jika bukan aku sendiri yang berlari mengejarnya.

Aku segera mengalihkan perhatianku darinya. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat. Kau pikir dia mendekat untuk mendekatiku? Dia perlu melewatiku untuk turun dari pintu bus. Aku yang terlalu banyak berharap, memang. Aku menertawakan diriku yang menyedihkan.

“Tidak turun? Ini pemberhentianmu, kan?”

Itu suaranya.

Aku tertegun.

Tunggu…

Dia barusan berbicara dengan siapa?

Aku melihat ke luar jendela dan sadar bahwa halte pemberhentianku sudah dekat. Dia sudah berada di dekat pintu bus yang akan berhenti dan terbuka. Setahuku dia harusnya turun di halte berikutnya. Kenapa dia menegurku kemudian berdiri di sana seakan menungguku? Kenapa dia bisa tahu kalau ini adalah pemberhentianku? Apa jangan-jangan…selama ini dia ternyata diam-diam mencari tahu tentangku—tertarik padaku?

Dia berbalik.

Astaga…aku memang tidak salah lihat.

Ia sedang menatapku sekarang.

Ia menatapku!

“Ayo!”

Kepalanya sedikit dimiringkan dengan santai, bibirnya bergerak membentuk satu kata ajakan yang indah.

Dia mengajakku turun, kan?

Ayo! Ya, ayo!

Tiba-tiba aku merasakan secercah harapan turun padaku, entah datang darimana. Masa depanku terlihat jelas. Aku mengayunkan kakiku dengan ringan dan agak terburu-buru, tidak ingin pangeranku menunggu terlalu lama, apalagi pintu bus akan segera tertutup. Aku tidak ingin supir itu mendengus lagi karena aku kembali membuatnya kesal.

Hyung…”

Saat aku melangkah dengan indahnya, terdengar suara dari arah belakangku. Seorang anak laki-laki dengan wajah cemberut dan sama asamnya dengan wajah supir bus mendahuluiku. Anak itu mendekat ke arahnya dan ia segera mengacak rambut anak yang tampak menggemaskan dengan raut mukanya itu. Mereka berdua turun dari bus.

Sedangkan aku membatu di atas bus hingga pintu akhirnya tertutup. Aku tidak berkata apa-apa dan hanya memandangi mereka berdua yang berada di halte. Bus mulai melaju dan sosok mereka semakin kecil.

Memang aku yang terlalu banyak berharap!

Kuhela napasku. Aku terpaksa harus turun di halte berikutnya. Aku pun duduk di bangku barisan belakang. Saat pantatku menyentuh permukaan tempat duduk yang masih hangat karenanya, juga ada aroma tubuhnya yang tertinggal tertangkap oleh indera penciumanku.

“Hm?”

Aku menunduk ke bawah. Aku rasa kakiku tidak sengaja menendang sesuatu.

“Ponsel siapa ini?”

Sebuah ponsel. Saat aku menekan tombol, layarnya menampilkan titik-titik untuk membentuk pola khusus agar password terbuka. Tapi, bukan itu jadi fokusku sekarang. Background kunci layarnya. Aku tahu siapa yang mempunyai ponsel ini.

Entah aku harus senang atau tidak sekarang.

Ini ponselnya!

Aku senang karena aku bisa menyelamatkan ponselnya—kemungkinan besar ia menjatuhkannya tanpa sadar. Aku senang karena ini bisa jadi kesempatan untuk dia mengenalku—dengan mengembalikan ponselnya.

Di saat yang bersamaan, aku merasa cemburu.

Kembali kutekan tombol. Siapa perempuan yang foto bersamanya? Mereka tampak akrab dalam foto yang dijadikan latar belakang kunci layar. Perempuan itu cantik sekali. Kulitnya seputih susu, rambutnya panjang hingga punggung dan ia tersenyum lebar dengan begitu manis. Dia duduk di samping perempuan itu dengan salah satu lengannya melingkar di sekitar bahu. Jelas ini foto lama karena mereka berdua memakai seragam SMP. Foto ini pasti sangat berharga dan berarti—kalau tidak, untuk apa dia menjadikannya background?

Itu masalahnya!

Itu artinya, perempuan yang ada di foto ini sangat berarti baginya.

Apa perempuan ini kekasihnya?

Nyaliku menciut. Kalau memang benar, aku sudah pasti kalah banyak. Pantas saja, semua anak perempuan yang menyatakan cintanya ditolak, ternyata dia sudah punya kekasih. Tidak perlu ditanya lagi, sudah jelas pernyataanku pun akan ditolak juga—ada atau tidaknya kehadiran perempuan ini juga tidak akan berpengaruh.

Yang jelas, setelah perasaanku tersampaikan, apapun yang terjadi, aku yakin bahwa aku akan tetap baik-baik saja.

———

‘Jib’ is calling

Ponselnya bergetar. Ini sudah kali kedua dan aku ragu untuk mengangkatnya. Aku mungkin akan meleleh begitu mendengar suaranya di seberang sana. Itu sangat konyol dan aku tidak ingin itu terjadi. Aku sibuk berdebat dengan diriku sementara ponsel terus bergetar, menuntut untuk diangkat.

“Annyeonghaseyo, saya pemilik dari ponsel yang Anda temukan. Dengan siapa saya sedang bicara?”

“Ah…n-ne, annyeonghaseyo, seonbae.”

Setelah berdebat cukup lama dengan diriku sendiri, aku memutuskan untuk mengangkatnya. Cepat atau lambat aku memang harus mengangkatnya agar dia tidak khawatir. Mendengar suaranya seketika membuatku meleleh. Dia bicara begitu formal. Suara berat yang menggoda itu sukses membuatku tergagap menjawab sapaannya. Bukan hanya itu, saat memperkenalkan diriku juga menjelaskan mengapa ponselnya bisa ada padaku, aku menjelaskannya dengan gugup dan gagap. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan sekarang saat mendengar suaraku.

“Bertemu di belakang sekolah?”

Ini saatnya!

N-ne. Aku ti-tidak ingin menarik perhatian siswa lainnya.”

Ayolah, jangan pura-pura polos! Kau tahu dengan baik kalau semua mata selalu tertuju padamu, kan? Apa yang akan mereka pikirkan kalau aku memberikan ponselmu di hadapan mereka semua?

Oh, baiklah.

Kurasa dia mengerti maksudku.

Aku melonjak senang saat percakapan kami berakhir. Beberapa saat yang singkat itu membuat jantungku berdebar kacau sejak awal. Aku sedikit kecewa, sih, karena aku masih ingin bercakap dengannya. Tapi, apa yang pantas untuk kami bincangkan berdua?

Malamku pun disibukkan dengan merancang kata-kata yang akan kuungkapkan padanya. Aku baru terlelap pukul tiga pagi. Alhasil aku bangun terlambat dan buru-buru berangkat ke sekolah. Aku harus berlari dengan cepat menuju halte kalau tidak ingin ketinggalan bus. Menyebalkan sekali. Rasanya apa yang telah kuhapalkan tadi malam jadi hilang semua. Aku bahkan tidak mengingat bagian pertamanya.

BRAAAKKK!

Dan aku tidak ingat apa yang terjadi padaku selanjutnya saat benda bergerak yang melaju dengan cepat menabrakku ketika aku sedang menyeberang. Yang dapat kuingat adalah tubuhku rasanya melayang sesaat di udara—bersamaan dengan kalimat awal yang telah kukonsep muncul di pikiranku, lalu tak lama kemudian tubuhku jatuh, beradu dengan aspal yang keras.

Rasanya sakit.

Pening…

Dan…gelap.

———

“Kau yakin sudah baikan? Kepalamu saja masih diperban begini.”

Aku menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa.”

Tangan kami yang tak sengaja bersentuhan lalu ia genggam. Aku sedikit terkejut, begitu juga bagi semua siswa yang melihat kami. Mereka bersiul tidak jelas. Sepintas aku mendengar suara tangis seorang perempuan karena patah hati. Aku melotot padanya, menyuruhnya melepas tanganku agar keributan di koridor ini mereda. Ia malah tersenyum. Tidak sopan melakukan hal ini sementara kami masih ada di area sekolah.

“Jangan lupa makan siang bersama istirahat nanti.”

Dia mengantarku hingga ke kelas, bahkan dia masuk untuk menaruh tasku di bangkuku. Aku benar-benar malu dan takut secara bersamaan sekarang. Ini karena semua orang sedang melihatku dengan berbagai tatapan—senang, iri, jengkel sampai tatapan yang seakan bisa memakanku. Terutama di poin terakhir, itu mencetak angka yang fantastis.

Seorang populer akhirnya berpacaran setelah menolak banyak anak perempuan. Yang membuatnya tidak biasa dan menghebohkan karena sosok perempuan yang menjadi kekasihnya sangat melenceng dari perkiraan. Semua orang berpikir dia akan menemukan kekasih yang sebanding dengan dirinya. Cantik, berprestasi, dan populer.

Makanya, jangan melihatnya dengan satu kacamata saja. Coba ganti kacamatanya dan kalian akan melihat pesona dari perempuan biasa sepertiku yang tidak biasa—meski aku juga bertanya-tanya apa gerangan pesona yang kumiliki itu. Aku pun penasaran bagaimana awal mulanya sehingga kami bisa seperti ini. Rasanya aku telah melewati potongan yang penting disini.

Aku tidak mengingatnya.

“Aku menyatakan, kau menerima, kita berciuman—“

“Tunggu dulu! Ki-kita…be-berciuman?”

“Kita harus memeriksa kepalamu itu. Mungkin kau terbentur sangat keras sampai lupa betapa panasnya ciuman kita waktu itu.” Ia menggodaku. Oh, sisi lain dari dirinya yang baru aku tahu. Dia senang menggodaku hingga wajahku bersemu merah sampai ke telinga.

“Lihat wajahmu itu!” Dia tertawa lepas. “Bercanda. Aku hanya menciummu seperti ini.”

Dia yang memajukan wajahnya tiba-tiba ke arahku harus puas mencium sendok yang kugunakan untuk pertahananku. Bibirku yang diinginkanya bersembunyi di balik sendok dengan sukses.

“Yah, hampir saja,” ia bergumam, menelan sedikit kecewa.

Aku mengulum senyum. Jantungku berdebar-debar, sangat kacau dan ribut. Aku harap dia tidak mendengarnya karena saat ini hanya ada kami berdua di taman sekolah, menikmati bekal makan siang.

Kembali kupikirkan ucapannya. Dia menyatakan? Apa yang ia katakan saat menembakku? Apa yang kukatakan saat menerimanya? Dan ciuman…ah, aku yakin dia tidak melakukannya dan hanya ingin mempermainkanku. Kenapa aku tidak ingat apa-apa?

Saat pulang sekolah, kami yang biasanya jalan sendiri-sendiri—dia di depan dan aku mengikutinya di belakang hingga sampai di halte, hari ini berjalan bersisian dengan bergenggaman tangan sampai telapak berkeringat. Saat seperti ini, waktu rasanya tidak adil. Dia berjalan lebih cepat dari biasanya. Perjalanan dari sekolah ke halte rasanya dekat sekali. Oho…bahkan waktu pun menaruh iri padaku rupanya.

Apa yang akan kulakukan pada dia yang menyempatkan waktunya untuk turun di halte pemberhentianku dan mengantarku pulang sampai ke depan pagar rumahku? Dia melakukannya setiap hari tanpa jenuh, meski aku menyuruhnya berhenti karena aku tahu dia melakukan itu karena khawatir padaku. Tapi, hingga perbanku dilepas dan lukaku kering, dia tetap saja melakukannya. Dia kekasihku, dan aku tidak ingin membuatnya repot.

Dia kekasihku…

Ah, aku tidak terbiasa dengan pernyataan ini, tapi aku mulai memfavoritkannya.

“Boleh aku bertanya?”

Bus melaju pelan membelah jalan utama Seoul. Kami berdua duduk bersisian, aku tepatnya di samping jendela. Sejak tadi kami berdua diam—lelah karena menghabiskan satu hari Minggu kami di taman bermain sepuasnya. Ini hari yang luar biasa bahagia untukku. Ada sebuah boneka alpaca di pelukanku, hadiah dari permainan menembak target yang berjalan. Dia berusaha melakukannya untuk mendapatkan boneka yang kusukai ini. Sepertinya kami menghabiskan banyak waktu dan juga uang di stand permainan itu. Selain itu, kami juga menikmati banyak permainan; utamanya yang mendebarkan. Kalian harus mendengar betapa ribut dan cemprengnya ketika ia berteriak.

Aku memandang ke luar, kurang kerjaan menghitung jumlah lampu jalan yang kami lewati hingga sebuah pertanyaan terlintas di pikiranku.

“Mau bertanya apa?”

“Apa yang membuatmu tertarik padaku?” tanyaku langsung, tanpa basa-basi.

Dia tersenyum lalu memperbaiki posisi duduknya. Lengan kami menempel dan dia bergerak menggenggam tanganku. Aku suka kehangatan yang menjalar saat tangannya yang besar menyelimuti tanganku. Juga debaran dalam diriku.

“Penasaran.”

“Apa?”

“Awalnya aku penasaran dengan gadis yang selalu berjalan mengikut di belakangku, menikmati punggungku bahkan selalu naik bus yang sama denganku. Aku bahkan berpikir bahwa kau ini penguntit.”

“Apa?”

Aku benar-benar tidak menyangka dengan jawaban yang kudapatkan. Aku? Seorang penguntit? Yang benar saja! Ya, kuakui, mungkin aku sedikit menguntitnya, tapi aku bukanlah penguntit seperti itu! Ini hanya karena kami ditakdirkan dengan arah pulang sejalan—salah satu anugrah untukku.

“Serius. Tapi, karena melihatmu selalu turun di halte yang sama, aku menarik dugaanku itu. Kau bukan penguntit, namun kau tetap saja berada di belakangku, membuatku kurang nyaman karena tanpa perlu berbalik aku tahu kau jelas-jelas tengah melotot menatap punggungku.”

Apa? Secara tidak sadar aku telah membuatnya kurang nyaman?

Mian.

Bibirnya tertarik, melengkungkan senyum untukku lalu lanjut bercerita.

“Aku tidak sengaja melihatmu memasukkan sesuatu ke dalam lokerku—surat cinta. Saat itu aku pun akhirnya tahu bahwa kau menyukaiku. Asal tahu saja, selama ini aku merasa risih dengan semua anak perempuan yang mengaku menyukaiku, bahkan sampai membuang rasa malunya jauh-jauh dengan menyatakan cinta padaku.”

Mian.

“Tidak, tidak. Kau tidak pernah membuatku merasa risih seperti yang lainnya.” Ia menggeleng dan segera membantah ucapan maafku. “Kau membuatnya berbeda. Tahu bahwa kau diam-diam jatuh cinta untukku entah kenapa membuatku senang. Lalu semuanya berkembang hingga kita sampai di titik ini.”

Napasku tertahan. Setelah terlihat seperti penguntit baginya, aku tidak tahu bahwa diam-diam ia merasa senang karenaku. Kupikir hanya aku yang selama ini berusaha mencari-cari agar bisa bertemu—walau dari kejauhan, meski itu hanya sebatas punggung, dan ketika itu berhasil aku merasakan bahagia yang luar biasa.

“Aku terkesan.”

“Harus.”

Kami berdua tertawa—dan aling mengagumi senyuman satu sama lain. Matanya hanya tertuju untukku saat ini, begitu pula milikku, satu hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Mulutku kemudian menguap dengan lebar juga dengan tidak sopan. Ia menertawakanku dan aku pun merona malu karena bersikap seperti itu. Selanjutnya dia menepuk bahunya dan melirikku. Dia sedang menawarkan bahunya untukku. “Masih ada waktu untuk tidur. Kalau kau tak keberatan…”

“Dengan senang hati.”

Aku segera menyandarkan kepalaku di bahunya. Aroma tubuhnya tercium semakin jelas dan aku menikmatinya. Aku melirik dia yang sedang melempar pandangannya ke luar jendela. Kuamati tiap inci lekuk rahangnya yang terbentuk tegas, hidung mancung yang terpahat juga matanya yang kadang memberikan tatapan dingin tak berperasaan. Bagaimana dia bisa terlihat sememabukkan ini? Sepertinya aku sudah menghapal seluruh ekspresinya di luar kepala.

Terlebih senyumannya itu.

Aku ingin dia selalu tersenyum seperti itu.

Karenaku.

Dan hanya untukku.

Perasaan bahagia pun melingkupiku. Mencintai seseorang yang ternyata mencintai kita berkali-kali lipat lebih besar semakin membuatku yakin bahwa aku adalah perempuan paling beruntung di dunia. Berada dalam garis edar kehidupannya jelas bukan hal yang pernah kubayangkan sebelumnya. Kupikir aku akan terus berada di belakangnya, mencintainya dalam diam—entah sampai kapan. Aku terlalu maju ke depan karena ragu akan disambut. Tuhan, terima kasih telah ikut campur tangan dan memberiku kesempatan melihat kemungkinan dalam ruang ketidakmungkinan.

Kantuk semakin menguasaiku. Lengannya yang melingkari bahuku, menarikku semakin dekat. Jari-jarinya naik turun, menepuk-nepuk lembut lenganku. Nyaman sekali. Anehnya, sepertinya ini bukan yang pertama kali. Semakin lama, bahu tempatku bersandar juga pelukan ini membuatku merasa aku pernah mengalami hal ini sebelumnya dengan orang yang sama.

Déjà vu.

Ponsel miliknya bergetar di dalam jaketnya. Aku bisa ikut merasakannya. Seseorang dengan ID Caller ‘Ri’ sedang meneleponnya. Kontaknya dilengkapi dengan foto, sehingga aku bisa melihat wajah seorang perempuan berambut panjang dan berkulit putih susu yang tertampil di layar ponselnya. Dia tersenyum dan itu membuatnya semakin cantik.

Tunggu…bukankah perempuan ini seorang aktris papan atas?

Aku pernah melihatnya dalam drama yang sering dinonton oleh ibuku.

Siapa namanya, ya?

Ne, Hae Ri-ya.”

Ya! Itu dia! Namanya Hae Ri. Tepatnya Kim Hae Ri.

Dia mengangkat telepon aktris itu. Aku bertanya-tanya bagaimana mereka bisa mengenal satu sama lain. Aku dapat mendengar suara tangisan di ponsel yang ia tempelkan di telinganya. Saat itu juga ekspresinya berubah. Dia tegang dan berkali-kali memerintahkan orang di seberang sana untuk berhenti menangis.

“Ada apa—“

“Aku harus pergi menemuinya.”

Dia jadi terburu-buru. Ia berdiri dari duduknya. Aku yang tidak menyangka pergerakannya hampir jatuh ke samping karena beberapa detik yang lalu kepalaku masih bersandar di bahunya. Tanpa pamit, tanpa permisi, tanpa minta maaf, ia segera turun dari bus yang berhenti di halte. Aku memanggilnya, tapi dia tidak menoleh. Aku ingin menyusulnya turun, tapi dia segera mencegat taksi dan masuk ke dalamnya.

Segalanya terjadi dengan cepat.

Dia meninggalkanku di bus seperti orang bodoh.

Aku terdiam di tempat dudukku, tidak tahu apa yang terjadi padanya dan perempuan itu.

Bus kembali melaju.

Dan aku mulai khawatir.

Apa yang membuatnya terburu-buru seperti itu?

———

“Sudah sadar?”

Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Hidungku menangkap bau obat-obatan yang menusuk. Seorang wanita berjas putih berkalungkan stetoskop berdiri di sampingku yang tengah berbaring. Aku mengalihkan tatapanku dari wajahnya ke langit-langit ruangan lalu ke seluruh ruangan.

“Kau di rumah sakit. Tadi pagi kau segera dilarikan ke sini setelah tertabrak motor dalam perjalanan ke sekolah.”

Mendengar kata kecelakaan dari mulut dokter itu, aku baru merasakan sakit di beberapa bagian tubuhku, terutama kepalaku. Aku masih tidak mengerti. Kecelakaan? Seingatku aku sedang berada di atas bus dalam perjalanan pulang dari taman hiburan bersama…

Sial.

Apa itu semua hanya mimpi?

Aku mencubit diriku sendiri dan meringis, juga rasa ingin menangis.

“Ada apa?”

“Tidak,” kataku cepat.

Dokter itu menulis sesuatu di papan yang ia bawa. “Untung saja kepalamu tidak begitu keras terbentur dengan aspal, sehingga tidak terjadi hal yang fatal untuk bagian dalam kepalamu—kecuali jidatmu yang robek dan kami harus menjahitnya. Juga ada memar di beberapa bagian tubuh.”

Aku merasa ada sesuatu yang berat pada kaki kananku. Kusingkap selimut yang menutupi kakiku dan terkejut dengan keadaan yang kulihat.

“Ah, untuk beberapa minggu ke depan kau harus menggunakan gips karena mengalami retak tulang fibula.”

Setelah mengatakan semua yang membuat seluruh tubuhku bereaksi nyeri, dokter cantik itu berjalan ke luar kamar. Tidak lupa ia menyampaikan bahwa ibuku tadi datang lalu pulang untuk mengambil keperluan opnameku. Aku memberikan senyum manis sampai dia menghilang dibalik pintu geser.

Jidat robek, memar, tulang retak juga sampai harus diopname membuatku sadar kondisiku yang cukup parah. Mungkin saja aku mengalami trauma setelah kecelakaan ini. Disamping itu, aku bersyukur karena tidak terjadi apa-apa pada isi kepalaku.

Saat aku sibuk menghitung jumlah memar biru pada tubuhku, sosoknya terlintas di pikiranku. Aku kembali teringat apa yang baru saja aku mimpikan. Mungkin karena hal terakhir yang aku pikirkan sebelum kecelakaan adalah dirinya, maka aku jadi memimpikan dirinya sementara aku tidak sadarkan diri.

Tapi, kenapa mimpinya harus seperti itu?

Kenapa harus ada orang ketiga di antara kami?

Kenyataan sudah cukup pahit untukku, tidak bisakah Tuhan bermurah hati mengindahkan mimpiku dan menyempurnakannya? Sesekali melihatku bahagia tidak ada ruginya, kan? Tapi, kuakui, menjadi kekasihnya dalam mimpiku sudah untung banyak bagiku.

Aku mencoba bangun dari baringku, tapi kepalaku terasa pening sekali. Padahal aku sangat ingin mengambil ponsel miliknya yang kutaruh di dalam tasku. Aku sampai harus memanggil perawat untuk menolongku mengambil tas yang jaraknya hanya sekitar tiga meter dariku.

Ada sepuluh panggilan tidak terjawab!

Astaga, ini pasti teleponnya! Dia pasti mencariku karena kami sudah berjanji untuk bertemu di belakang sekolah. Bagaimana ini? Lebih baik aku menunggu teleponnya lagi.

Mimpi itu kembali menggangguku—terutama kehadiran Haeri sebagai orang ketiga, yang membuatku ditinggalkan sendiri di bus karena teleponnya. Aku penasaran kenapa dia bisa masuk ke dalam mimpi indah seseorang dengan seenaknya.

Ternyata kami seumuran—tapi, wajahnya baby face sekali. Selain itu, dibanding aku yang tiap hari kebanyakan menghabiskan tidur siang di rumah, di waktu yang sama dia sudah aktif membintangi banyak drama dan film serta iklan. Dia juga sudah mendapatkan beberapa penghargaan ternama berkat perannya dalam drama-drama serta film itu. Aku cukup terkesan—bahkan sangat terkesan. Aku masih meminta uang jajan pada orangtuaku, sedangkan dia bisa membeli mobil dan rumah dengan hasil keringatnya sendiri.

Aku mulai berpikir bahwa kehadiran Haeri itu hanyalah bumbu cerita dalam mimpiku, dalam arti dia hanya tidak sengaja lewat untuk mengganggu. Tapi, semakin lama aku melihat wajahnya, aku semakin merasa familiar dengan perempuan ini. Apalagi melihat wajahnya yang tanpa make up.

Semoga hanya perasaanku saja, harapku.

Jika dia benar dekat dengan perempuan sempurna ini, aku mungkin bisa rela.

“Hm?”

Entah mengapa aku membandingkan foto Haeri yang kudapat di internet dengan foto yang dijadikan background kunci layarnya. Aku menemukan banyak kesamaan. Mata, hidung juga bibir perempuan di foto sama persis dengan Haeri tanpa polesan bedak itu.

“Tidak mungkin,” gumamku.

Jangan-jangan, mereka…

‘Jib’ is calling

Ne?

Akhirnya kau mengangkat teleponnya juga.”

Terdengar nada lega dari suaranya. “Mian. Aku—“

Aku tahu.” Dia memotong dengan cepat. “Bagaimana keadaanmu?

Dia menanyakan kabarku! Astaga, aku senang sekali bahwa ia khawatir padaku—entahlah, mungkin aku terlalu senang padahal ini pertanyaan standar yang memang seharusnya ditanyakan pertama kali saat orang kecelakaan. Lupakan! Biarkan aku menikmati bahagiaku yang sederhana ini.

“Aku baik-baik saja, cuma luka di beberapa bagian.”

Hm. Besok aku berencana mengambil ponselku di rumah sakit—“

Aniyo, seonbae. Aku bisa menitipkannya pada temanku untuk diberikan padamu besok. Kau tidak perlu ke rumah sakit—“

Sekalian menjengukmu.

“Tapi…”

Sekalian menjengukku? Aku ingin melompat girang sekarang dari ranjangku jika aku bisa.

Aku akan ke rumah sakit sepulang sekolah. Call?”

“Baiklah.”

Dia memaksa untuk mengambil sendiri ponselnya di rumah sakit, padahal aku bisa menitipnya pada Yuirin. Sebenarnya dia ingin pergi sore ini, tapi dia ada les. Aku sangat gugup harus bertemu dengannya dalam keadaan kacau seperti ini. Rambutku acak-acakan, kakiku yang digips, juga kepala yang diperban dengan jahitan yang belum kering. Harusnya aku bertemu di belakang sekolah hari ini—aku sudah berdandan cantik juga mengenakan jepitan rambut baru untuk bertemu.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana pertemuan pertama kami yang sebenarnya besok. Itu karena aku tidak yakin bahwa dia mengenal wajahku—kami saja baru berkenalan di telepon semalam, lebih tepatnya aku yang memperkenalkan diri padanya. Dia hanya ber-oh ria mendengar aku menyebutkan nama dan kelasku.

“Sial.”

———

“Sudah jam empat?”

Aku menanti kedatangannya dengan cemas. Pagi tadi aku sudah membersihkan badanku dengan lap air hangat—masih sulit untuk mandi dengan keadaan seperti ini. Ibu membantuku menyisir rambutku yang kusut sebelum dia dan ayahku berangkat kerja. Ayolah, aku bukan anak kecil lagi yang harus diawasi setiap jam. Aku meyakinkan kedua orangtuaku bahwa aku akan baik-baik saja dan mereka tidak perlu begitu khawatir sampai harus libur kerja. Lagipula ada perawat yang akan membantuku.

Reality show yang kunonton, berharap itu akan membantuku mengusir rasa gugup sama sekali tidak membantu. Aku terus-terusan melirik jam juga ponselnya. Dalam hati aku terus bertanya-tanya kapan dia datang juga bertanya apakah aku sudah terlihat cukup baik untuk bertemu dengannya. Aku sedang sakit, apa yang akan dia katakan kalau aku memakai riasan di saat seperti ini—meski itu hanya sapuan bedak tipis?

Aku makin gugup!

‘+82456987xxx’ is calling…

Saat aku sibuk berpikir penampilanku, bunyi ponsel mengagetkanku hingga terlonjak. Aku tidak akan seterkejut ini kalau ponselku yang berbunyi. Aku melihat deretan nomor tak dikenal di layarnya. Ini pasti dia.

Hyun-ah!

Ne?”

Kami sama-sama hanya mengucapkan sepatah kata saja dan penelepon di seberang sana memutuskan panggilan. Aku mengernyitkan keningku. Mungkin saja penelepon iseng atau salah sambung. Tapi, tadi dia berkata ‘Hyun-ah’. Itu nama panggilan, ya?

Ponsel berdering lagi, tapi kali ini nomornya berbeda. Dering ketiga, aku mengangkatnya dengan uring-uringan. Aku pikir si penelepon iseng yang tadi, ternyata dia.

“Kamar 233.”

Setelah memberitahu nomor kamarku, tak sampai lima menit, aku mendengar ketukan di pintuku. Ketukan yang berhasil membuat jantungku berdebar tidak normal. Aku menarik napas sebelum bersuara, mempersilahkannya masuk.

Mata kami bertabrakan ketika pintu bergeser. Hal itu tidak berlangsung lama karena ia berbalik menggeser pintu tertutup kembali. Aku kira dia akan datang bersama temannya, ternyata dia datang sendirian. Astaga, hanya berdua di ruang inapku ini bisa-bisa membuatku sesak napas karena kekurangan pasok oksigen. Apalagi saat ini, dia tanpa canggung mendekati ranjangku untuk duduk di kursi. Jarak kami hanya satu meter! Aku yang biasanya berada lima meter di belakangnya kini mencetak rekor hari ini. Aku harap dengan jarak sedekat ini, dia tidak mendengar jantungku yang berdetak dengan keras.

“Cuma luka di beberapa bagian?”

Dia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Itu membuatku gelisah. Matanya yang melihatku dari bawah bulu matanya itu…kenapa seksi sekali?

“Ya,” jawabku sedikit berbisik—juga canggung serta kikuk. Entahlah, aku mungkin terlihat begitu kaku di pandangannya sekarang. “Jidat yang robek, memar juga tulang retak. Cuma beberapa, kan?” aku mengangkat sedikit kakiku yang berada di bawah selimut. Ia menyadari adanya gips di balik sana karena hal itu begitu menonjol.

“Aku tidak bisa membayangkan seberapa keras kau ditabrak.”

Ya, memang. Kau juga tidak bisa membayangkan seberapa keras aku memendam cintaku selama dua tahun ini padamu. Dan gara-gara kurang fokus, aku malah kecelakaan seperti ini.

Aku tersenyum kecut padanya. Kali ini aku sepertinya bisa lebih santai. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan itu seketika membuat mataku membulat.

Seonbae bercanda?” Aku menerimanya dengan mata berbinar-binar. “Kenapa seonbae bisa tahu es krim kesukaanku?”

Feeling?

“Kalau begitu kau punya feeling yang bagus.”

Aku menaruh ember es krim di sampingku lalu berpikir berapa hari yang kubutuhkan untuk menghabiskan itu semua. Yang jelas setiap sendok es krim itu akan mengingatkanku padanya. Kenyataan itu membuatku tak kuasa menahan senyum di bibirku.

“Kenapa?”

“Aku hanya senang,” jujurku.

Dia ikut tersenyum. Oh, dia datang dengan mood yang baik. Aku bersyukur bukan sisi dingin yang ia bawa bersamanya bertemu denganku sore ini.

Aku memberikan ponselnya dengan setengah hati. Jujur saja, karena benda ini aku bisa berbicara dan duduk sedekat ini dengannya. Benda ini membuatku bisa melihat senyumnya, aku bisa mendapatkan perhatian meski itu hanya perhatian wajar untuk seorang yang sakit sepertiku. Aku mendapat kesempatan itu dari ponselnya. Setelah benda ini dikembalikan, aku tidak tahu apakah kami bisa seperti ini—tepatnya, apa aku masih bisa bicara dan duduk sedekat ini dengannya. Memikirkan itu mengundang rasa sedih dalam diriku.

“Terima kasih. Untungnya kau yang menemukan ponselku ini.”

Ne…

Dia lalu sibuk dengan ponselnya. Aku mencoba untuk tidak mencari tahu apa yang ia lakukan dengan benda itu. Mungkin mengecek panggilan juga pesan yang masuk selama benda itu berada di tanganku.

“Oh, sebelum kau ke sini, ada yang meneleponmu. Karena aku kebetulan sedang memegangnya, jadi aku mengangkatnya.”

Mendengar ucapanku, ia sepertinya segera mengecek panggilan masuk ponselnya. “Nomor ini?”

Aku mengangguk ketika ia memperlihatkanku nomornya. Raut wajahnya tiba-tiba berubah. Ada apa?

“Apa yang ia katakan?”

“Dia hanya berkata ‘Hyun-ah’, lalu teleponnya tiba-tiba ditutup saat aku menjawab.”

Aku merasakan suasana di antara kami perlahan-lahan bergeser. Tatapannya yang tadinya hangat berubah jadi dingin. Aku merasa takut kalau saja aku melakukan kesalahan karena menjawab teleponnya itu.

“Maafkan aku, aku hanya—“

“Mau keluar sebentar?”

Aku melongo mendengar ajakannya.

“Kau tidak sesak berada di kamar sepanjang hari? Bagaimana kalau kita menghirup udara segar di luar?”

Aku tidak keberatan dengan ajakannya. Aku hanya merasa aneh karena perpindahan suasana hatinya begitu tiba-tiba dan cepat. Ia adalah orang yang hangat saat datang, lalu berubah jadi dingin, dan tak sampai beberapa detik ia kembali menghangat. Astaga, aku harus terbiasa dengan perubahannya yang tiba-tiba ini.

Dia mendorong kursi rodaku menuju teras rumah sakit di lantai atas. Kami menikmati kopi panas yang ia beli dari mesin kopi. Matahari sedang bersiap diri terbenam di ufuk barat sana. Kopi, senja dan langitnya, serta angin yang berhembus lembut, dengan dia di sampingku, aku benar-benar menikmati waktu ini dan berusaha merekam tiap detik yang aku lewati dalam memoriku.

Aku iseng-iseng bertanya bagaimana kesibukan anak kelas tiga yang sedang menyiapkan diri untuk ujian sekolah juga ujian masuk universitas. Meski dia terlihat santai, tapi sebenarnya dia belajar dengan keras untuk masuk universitas yang diinginkannya.

Seonbae ingin ambil jurusan apa?”

“Dokter.”

“Dokter?” Aku mengulangi ucapannya tanpa sadar.

“Kenapa? Terlalu tinggi, ya?”

“Tidak.” Aku menggelengkan kepalaku. “Kau pintar, seonbae pasti bisa.”

Tanpa diminta, dia memberiku nasehat untuk belajar dengan baik mulai dari sekarang karena persaingan masuk universitas sangatlah ketat. Sebenarnya aku tidak begitu suka dinasehati, tapi entah kenapa aku malah ingin lebih sering dinasehati olehnya seperti ini. Aku merasa diperhatikan dengan caranya bicara.

Aku memandang matahari yang sebentar lagi tenggelam di balik gunung. Aku sadar waktuku akan segera habis. Setelah ini, dia pasti akan pulang dan meninggalkanku. Aku tidak tahu kapan bisa seperti ini lagi bersamanya. Sebelum perpisahan mengakhiri segalanya, aku memutuskan untuk mengatakannya.

Aku ingin menjemput kesempatan itu, meski dia tidak ditakdirkan untukku. Setidaknya aku mencoba sebelum menyesal seumur hidup.

Seonbae,” aku memanggilnya lirih. Mata yang sedari tadi menatap lurus ke langit dan matahari kini dengan bermurah hati menatap perempuan yang ingin mengungkap perasaannya ini. Aku menelan ludah karena gugup.

“Ada apa?” ia bertanya karena aku tidak kunjung berkata. Aku gugup, saking gugupnya melupakan semua yang telah aku rancang jauh-jauh hari. Benar-benar bodoh! Apa yang harus kukatakan bahwa aku ingin mengajaknya berbagi rasa denganku?

“Hei.”

“Oh, hei.”

Dia tertawa karena aku tiba-tiba kehilangan fokusku.

“Ada apa sebenarnya? Ada yang ingin kau katakan?”

“Ng…itu,” aku memainkan jari-jari tanganku di atas pangkuan. “Mungkin seonbae sudah terbiasa mendengar pernyataan ini, tapi bagiku ini yang pertama kalinya. Jadi, aku sedikit gugup.”

Kualihkan mataku sebentar dari pandangannya yang mengunciku. Aku menghela napas lalu kembali menatapnya ketika siap. Matanya sedikit melebar karena perkataanku. Aku kira dia sudah tahu apa yang akan kukatakan. Tinggal menunggu keberanianku untuk mengungkapnya langsung.

Aku siap dengan konsekuensi.

“Aku hanya ingin tahu kalau aku menyukaimu, seonbae.

Hening.

Aku menurunkan pandanganku ke arah jari-jariku.

“Aku tahu.”

Wah, dia sudah tahu rupanya. Kalau begitu, untuk apa kukumpulkan keberanianku untuk mengungkapkan sesuatu yang sudah ia tahu? Atau dia berpikir bahwa semua perempuan pasti menyukainya sehingga dia bisa tahu kalau aku adalah salah satunya?

“Hanya aku tidak tahu apakah kau punya kesempatan…”

Katakan saja kalau aku memang tidak punya kesempatan. Toh, aku juga tidak menaruh banyak harap pada perasaan ini. Aku sadar rasa ini sepihak, sudah tahu bertepuk sebelah tangan, tapi justru dipertahankan mati-matian tanpa alasan yang jelas. Aku sudah tahu seberapa bodoh diriku ini.

Ne…aku juga tahu itu. Aku hanya ingin agar diamku selama ini tidak akan berbuah penyesalan kemudian hari.” Aku tersenyum meski mataku kini terasa panas. Air mataku menetes di jariku. Aku harap dia tidak memerhatikannya. Sebelum dia menyadarinya, aku memutar roda kursiku.

“Aku antar ke kamar.”

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”

Meski sedih karena kenyataan yang sudah kuperkirakan, setidaknya aku merasa bangga karena telah berani mengungkap. Tangisku ini mungkin berlangsung semalaman, tapi besok aku yakin diriku akan baik-baik saja. Ini saatnya bagiku untuk berbenah diri.

Sebelum aku benar-benar meninggalkannya di belakangku, aku menoleh. Dia terkejut karena mendapati mataku berkaca-kaca. Aku mengembangkan senyumku. Aku tahu, aku tidak boleh marah padanya. Ini bukan salahnya. Semua orang punya pilihan, kan? Aku memilih mengungkap dan dia memilih untuk menolak. Tidak ada yang salah dengan penolakan itu. Yang salah mungkin aku terlalu lama mengagumi dan mencintai sebatas punggung, dan semua itu berakhir sia-sia. Ah, mungkin tidak sia-sia juga…

Seonbae, untuk dua tahun ini, terima kasih,” ucapku tulus. “…terima kasih telah membuat jantungku berdebar-debar juga terima kasih karena telah membuat hari-hariku yang biasa jadi lebih indah karena rasa bahagiaku yang sederhana—hanya dengan melihatmu di pandanganku.”

Terima kasih, cinta pertama…

atas perasaan jatuh cinta juga rasa sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Kini aku ingin mengucapkan selamat tinggal untuk rasaku yang tak berbalas ini.

Melanjutkan hidup dan menemukan cinta yang baru.

Menemukan yang baru dan semoga bisa menggenapkan.

Semoga…

———

8 pemikiran pada “[Twoshot] Falling

  1. haaaaaaa
    ini keren
    beneran twoshot atau oneshot kah ???

    huwaaaaa berharap ini twoshot
    aku aku ntahlah
    belum bisa nerima segalanya huwaaaaaaaaa

    berharap happy ending
    seperti biasa -__-”

    yaaah akhirnya Inhyun mengungkapkan perasaannya meski dia tau mungkin tak dibalas tapi dia melakukan hal yang benar dengan tidak memendamnya

    aaaa Haeri lagi -___-”

    fighting buat selanjutnya ><

  2. Aaaakh…sayang sekali..sempet ngira kalo mereka jadi beneran walaupun agak janggal eh ternyata bener cm mimpi.
    tapi emang ngak ada salahnya kok buat di ungkapin..drpd penasaran trs nyesel.

  3. yang bikin q panasaran cast cow’a tu sp????#jleb
    kan cman nyebutin ‘Hyun-ah’
    bs jd soohyun kan.
    sehauh nie cast cow d sini Kyuhyun n soohyun.
    kirain beneran pacarab setelah insiden tabrakan tu,ternyata cmn mimpi.

  4. Awalnya smpt bingung pas baca, dri ketabrak kok mlah mrka tba2 udh jdi sepasang kekasih gitu. Sempat mikir oh itu mgkn cuma mimpinya inhyun doang, tpi suka banget liat mrka bsa mnjdi spsang kksih mskpn dlm mmpi.

Apa komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s